UAS Dorong Mahasiswa UBT Bangun Kampus Berdaya melalui Silaturahmi, Kolaborasi, dan Kepedulian Sosial

benuanta.co.id, TARAKAN —Universitas Borneo Tarakan (UBT) bekerja sama dengan Tunas Indonesia Raya menggelar kuliah umum bersama ulama Indonesia, Prof. H. Abdul Somad, Lc., D.E.S.A., Ph.D, pada Kamis (20/11/2025) di Auditorium Lantai 4 Gedung Rektorat UBT. Kuliah umum ini mengangkat tema ‘Silaturahmi, Kolaborasi, dan Kepedulian Sosial: Fondasi Mahasiswa Islami Unggul dan Kampus Berdampak’

Ulama Indonesia, Prof. Abdul Somad menjelaskan asal kata ‘silaturahim’ yang menurutnya memiliki makna mendalam. Ia menyampaikan kata tersebut berasal dari kata ‘shila’ yang berarti menyambung, dan ‘rahim’ yang berarti kasih sayang atau ikatan yang berasal dari satu rahim.

“Silaturahim itu bukan hanya bertemu, pada dasarnya kita ini berasal dari satu rahim yang sama,” jelasnya.

Ustad Abdul Somad (UAS) mengatakan UBT sebagai kampus multikultural membutuhkan budaya silaturahim yang kuat untuk menjaga harmoni antara mahasiswa dari berbagai latar belakang. Menurutnya, suasana akademik yang baik hanya terbangun jika setiap individu saling menghormati dan saling mengenal.

Baca Juga :  Menhut dan Gubernur Kaltara Sebut Mangrove Meningkatkan Produktivitas Tambak

“Kampus akan damai kalau hati-hati di dalamnya saling terhubung,” katanya.

UAS juga menekankan silaturahim di dunia perguruan tinggi tidak hanya dalam bentuk hubungan personal, tetapi juga hubungan intelektual. Ia mendorong mahasiswa untuk berdiskusi, berdebat dengan santun, serta saling belajar dalam komunitas akademik UBT. “Ilmu itu berkembang ketika disebarkan,” ujarnya.

Masuk pada aspek kolaborasi, UAS menjelaskan dunia hari ini tidak lagi memberi ruang bagi mereka yang bekerja sendiri-sendiri. Ia menyebut UBT memiliki karakter unik sebagai The Entrepreneurship University, sehingga budaya kolaborasi harus menjadi ciri mahasiswa dalam mengembangkan ide dan inovasi.

“Kesuksesan itu datang ketika kemampuan disatukan,” tegasnya.

Ia juga menekankan meskipun UBT berada di wilayah perbatasan Indonesia, mahasiswa tidak boleh membatasi pikiran dan kreativitas mereka. Menurutnya, banyak gagasan besar lahir dari daerah yang sering dianggap pinggiran.

Baca Juga :  Polda Kaltara Gagalkan Penyelundupan 55 Bal Balpres di Pelabuhan Kayan VI

“UBT memang di perbatasan, tapi kreativitas kalian tidak ada batasan,” imbuhnya.

Pada topik kepedulian sosial, Prof. Abdul Somad menjelaskan mahasiswa harus peka terhadap kondisi masyarakat sekitar, terlebih UBT berada dekat wilayah pesisir dan perbatasan yang memiliki dinamika tersendiri. Ia menyebut ilmu yang tidak memberi manfaat bagi masyarakat adalah ilmu yang tidak sempurna.

“Ilmu itu indah kalau bisa membantu orang lain,” ujarnya.

Ia mendorong mahasiswa untuk aktif berkontribusi melalui kegiatan sosial, edukasi komunitas, hingga pengabdian dalam berbagai bentuk. Menurutnya, mahasiswa UBT memiliki peluang besar untuk menjadi pelopor perubahan di Kalimantan Utara.

“Mulai dari hal kecil, itu sudah cukup untuk membuat perbedaan,” lanjutnya.

Mengenai fondasi mahasiswa Islami unggul dan kampus berdampak, UAS menyampaikan nilai-nilai keislaman seperti kejujuran, amanah, adab, dan tanggung jawab harus menjadi identitas mahasiswa UBT. Ia menegaskan nilai itu bukan hanya untuk kehidupan pribadi, tetapi juga menentukan wajah kampus di mata masyarakat.

Baca Juga :  Tambak di Kawasan Hutan Kaltara Terjepit Regulasi

“Mahasiswa Islami unggul itu yang menjaga akhlaknya di mana pun ia berada,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan kampus berdampak adalah kampus yang menghasilkan lulusan yang mampu memberi manfaat sosial, membuka peluang, dan memperbaiki lingkungannya. Menurutnya, mahasiswa UBT harus menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar penonton.

“Kampus itu berpengaruh ketika mahasiswanya membawa perubahan,” terangnya.

Sebagai penutup, Prof. Abdul Somad berpesan agar mahasiswa UBT terus menguatkan diri melalui ilmu, akhlak, dan aksi sosial. Ia menyampaikan bahwa UBT memiliki potensi besar melahirkan generasi hebat bila fondasi-fondasi tersebut terus ditanamkan.

“Bawalah cahaya, jangan hanya ikut keramaian,” tutupnya. (*)

Reporter: Eko Saputra

Editor: Endah Agustina

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *