benuanta.co.id, NUNUKAN – Lapas Kelas IIB Nunukan, terus mengembangkan program pertanian terpadu yaitu kegiatan pembinaan kemandirian bagi warga binaan untuk meningkatkan keterampilan bertani, menumbuhkan kedisiplinan, dan mendukung ketahanan pangan.
Kepala Seksi Bimbingan Narapidana dan Anak Didik serta Kegiatan Kerja Lapas Kelas IIB Nunukan, Eko Noviyanto mengatakan, program ini mencakup pembudidayaan berbagai tanaman seperti sayuran dan kacang-kacangan, dengan pengelolaan lahan seluas kurang lebih 10,5 hektar yang diberdayakan oleh warga binaan.
“Melalui pengelolaan lahan seluas kurang lebih 10,5 hektar, warga binaan yang telah lolos program asimilasi diberdayakan untuk mengolah sejumlah komoditas pertanian dan peternakan, tujuan utamanya adalah mempersiapkan warga binaan agar produktif dan siap kembali ke masyarakat setelah bebas,” tutur Eko pada Rabu (19/11/25).
Menurutnya, hasilnya panen nantinya tidak hanya digunakan untuk kebutuhan internal lapas tetapi juga disalurkan ke masyarakat sekitar atau dijual.
Eko mengatakan program ini tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga pembinaan keterampilan praktis bagi warga binaan.
“Kami ingin pembinaan di Lapas Nunukan tidak berhenti pada pemenuhan kewajiban hukuman, tetapi juga memberikan bekal keterampilan yang bisa mereka gunakan setelah bebas,” ujarnya
Eko menjelaskan saat ini sejumlah komoditas pertanian telah dikembangkan, seperti kangkung, bayam, tomat, cabai, terong, dan pare.
Untuk tanaman hortikultura, Lapas Nunukan juga membudidayakan singkong, pisang, kelapa, hingga kelapa sawit.
“Dari seluruh komoditas tersebut, kangkung menjadi produk unggulan dengan capaian produksi yang cukup signifikan,” jelas Eko Noviyanto.
Eko juga menyampaikan mekanisme pembagian hasil penjualan yang diterapkan di Lapas Nunukan sebagai bentuk apresiasi kepada warga binaan yang berkontribusi dalam kegiatan tersebut.
“Sebanyak 12 persen masuk ke PNBP, 15 persen kami berikan sebagai premi untuk warga binaan, dan sisanya digunakan kembali sebagai modal pengembangan pertanian terpadu,” katanya.
Selain sektor tanaman pangan, pengembangan juga dilakukan dibidang peternakan. Sejumlah hewan ternak seperti sapi, ayam broiler, ayam kampung, maggot, dan ikan nila menjadi bagian dari sistem integrated farming.
“Dalam waktu dekat, kami juga akan mengembangkan produksi ayam petelur bekerja sama dengan Kodim 0911 Nunukan,” tambah Eko.
Tidak hanya menggerakkan ketahanan pangan, Lapas Nunukan juga menyiapkan area edukasi dan wisata melalui Wahana Wisata Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Lanuka.
Program ini, menurut Eko, dirancang sebagai ruang interaksi konstruktif antara warga binaan dan masyarakat di masa mendatang.
“Kami mulai mengembangkan budidaya burung merpati dan spot edukasi lainnya untuk mendukung kawasan wisata SAE Lanuka,” terangnya.
Lebih lanjut, Eko Noviyanto menekankan keberhasilan program ini membawa dampak psikologis positif bagi warga binaan, terutama dalam hal rasa percaya diri dan semangat untuk kembali ke masyarakat. (*)
Reporter: Soni Irnada
Editor: Ramli








