benuanta.co.id, TARAKAN – Aktivitas perikanan di Kalimantan Utara (Kaltara) dinilai masih memiliki potensi kuat, terutama dari sektor tambak dan hasil laut. Namun, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Provinsi Kaltara, Peter Setiawan mengatakan produksi mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Khususnya dari sisi tambak di Kota Tarakan, luas lahan yang beroperasi juga mengalami penyusutan. Jika sebelumnya mencapai sekitar 165 hektare, kini hanya tersisa sekitar 154 hektare tambak yang masih aktif. Kondisi tersebut dikaitkannya dengan banyak tambak yang beralih menjadi perkebunan kelapa sawit.
“Kebanyakan sekarang yang ke sawit. Kalau air mati mereka ke sawit, air besar baru ke tambak. Memang sudah nggak kayak dulu,” ungkapnya.
Peter menyebut, dua perusahaan besar produsen udang di Tarakan bahkan telah berhenti beroperasi. Ia mengakui bahwa kondisi terbaik sektor tambak pernah terjadi di tahun 1998, 2000, sampai 2007. Namun sejak pandemi Covid-19, produksi terus menurun.
Jika sebelumnya hasil ekspor bisa menembus 1.500 ton per bulan, saat ini tinggal sekitar 1.200 hingga 1.300 ton saja. “Yang bagus itu dulu, sekarang mulai turun,” ucapnya.
Meski demikian, potensi laut Tarakan masih cukup kuat karena kekayaan hasil tangkap. “Tarakan masih bisa karena ada kepiting, bandeng, udang, kerang. Banyak hasil laut,” jelasnya.
Untuk komoditas yang paling dominan di wilayah pesisir Kaltara setelah udang, ia menyebut rumput laut masih menjadi yang tertinggi. “Rumput laut ya. Selain rumput laut, nggak ada lagi,” katanya.
Peter menilai, persoalan di sektor ini sering terjadi akibat minimnya komunikasi antara pemerintah dan stakeholder. Ketika muncul permasalahan di lapangan, konflik justru kerap berujung polemik hingga aksi protes.
“Itu sebenarnya harus kita sama-sama duduk bareng. Pemerintah dari perikanan, stakeholder pengusaha, petambak. Ini nggak ada komunikasi. Tiba-tiba ada masalah, ribut, demo,” terangnya.
Ia juga mengingatkan, penurunan sektor perikanan memberikan dampak langsung terhadap banyak pihak, mulai dari pekerja hingga petambak. “Petambak itu kan mitra kita. Nggak ada petambak, nggak ada pengusaha. Jadi semua saling terkait,” jelasnya.
Jika kondisi terus melemah, ia khawatir pondasi ekonomi daerah yang selama ini bertumpu pada perikanan bisa runtuh. Tak hanya itu, menurutnya dengan perputaran ekonomi yang mati akan menimbulkan dampak lainnya bagi masyarakat seperti meningkatnya angka kemiskinan dan kriminalitas untuk mencukupi kehidupan sehari-hari.
Peter berharap pemerintah tidak terus menerapkan aturan baru yang justru mempersempit ruang gerak pelaku usaha dan memperlambat distribusi hasil laut. “Harga turun, biaya tetap. Marginnya yang biasanya 10 persen bisa jadi 2 persen. Tutup, PHK. Itu efek berantai,” pungkasnya. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Yogi Wibawa







