benuanta.co.id, TARAKAN — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tarakan telah menyelesaikan proses pendataan kerusakan pascagempabumi yang mengguncang kota beberapa hari lalu.
Hasil asesmen mengungkap adanya puluhan titik terdampak dengan tingkat keparahan berbeda, mulai dari kerusakan berat hingga retakan ringan pada bangunan warga.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Tarakan, Yonsep, SE., MPA, mengungkapkan asesmen dilakukan sejak 9 hingga 15 November 2025 untuk menentukan siaga daruratnya gempa. Proses ini melibatkan pengecekan struktur rumah, pendataan kondisi fisik, hingga penentuan kategori kerusakan berdasarkan standar teknis kebencanaan.
“Per 15 November kemarin, total keseluruhannya ada 92 titik,” ungkapnya, Senin (17/11/2025).
Dari keseluruhan temuan lapangan, sejumlah bangunan dikategorikan sebagai rusak berat karena kondisi fisiknya sudah tidak layak huni. Beberapa rumah mengalami dinding yang pecah parah, kerangka bangunan yang melengkung, hingga dua unit bangunan yang runtuh sepenuhnya akibat guncangan.
“Untuk rusak berat ada 13 titik,” katanya.
Kategori kerusakan sedang menjadi temuan paling dominan setelah kerusakan ringan. Banyak bangunan yang masuk kategori ini mengalami pergeseran struktur, dinding retak besar, hingga kerusakan pada atap dan lantai yang membutuhkan perbaikan signifikan. Kerusakan seperti ini dinilai dapat membahayakan jika tidak ditangani segera.
“Rusak sedang itu mencapai 43 titik,” katanya.
Pada tingkat kerusakan ringan, petugas menemukan puluhan rumah yang menunjukkan retakan kecil pada dinding, lantai, hingga kusen. Meski tidak terlalu membahayakan, bangunan dengan kondisi demikian tetap dianjurkan untuk dicek ulang guna memastikan keamanan penghuninya.
“Sedangkan untuk rusak ringan ada 36 titik,” lanjutnya.
Kecamatan Tarakan Timur tercatat sebagai kawasan dengan dampak paling besar karena menyumbang hampir setengah dari total kerusakan yang ditemukan. Kondisi geografis wilayah yang dekat dengan pusat gempa serta kepadatan permukiman menjadi faktor yang turut memengaruhi skala kerusakan di kecamatan tersebut.
“Tarakan Timur paling banyak dengan 42 titik,” paparnya.
Sebagai langkah penanganan awal, pemerintah telah menyalurkan bantuan darurat berupa terpal, peralatan tenda, serta logistik dasar kepada warga yang rumahnya mengalami kerusakan sedang hingga berat. Bantuan tersebut diprioritaskan untuk warga yang membutuhkan penanganan cepat dan tidak dapat menempati rumahnya untuk sementara.
“Bantuan dasar sudah kami salurkan,” tuturnya.
Penyaluran bantuan dilakukan secara bertahap karena petugas harus menyesuaikan kondisi lapangan, akses lokasi, dan prioritas kebutuhan masyarakat. Proses distribusi juga mempertimbangkan hasil asesmen terbaru agar penanganan lebih tepat sasaran. “Penyalurannya memang bertahap,” ucapnya.
Selain melakukan pendataan, pemerintah juga meminta masyarakat untuk tetap berhati-hati terhadap kondisi rumah mereka. Bangunan yang mengalami retakan struktur, pondasi melemah, atau dinding yang tidak stabil disarankan untuk tidak dihuni sementara waktu demi mencegah risiko kecelakaan.
“Kami minta warga tetap waspada terhadap kondisi rumahnya,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Endah Agustina








