benuanta.co.id, TARAKAN — Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tarakan mencatat tingkat inflasi year-on-year (Y-on-Y) pada Oktober 2025 mencapai 2,45 persen. Kenaikan tersebut tercatat dari Indeks Harga Konsumen (IHK) yang berada pada level 107,09.
Kepala BPS Kota Tarakan, Umar Riyadi, SST, M.Si, menjelaskan inflasi Oktober menunjukkan perkembangan harga yang relatif stabil namun tetap mengalami kenaikan pada beberapa kelompok pengeluaran. Ia mengatakan inflasi month-to-month (M-to-M) tercatat sebesar 0,16 persen.
“Angka ini menunjukkan adanya kenaikan harga yang terjadi selama Oktober meskipun tidak terlalu tinggi,” ungkapnya, Ahad (16/11/2025).
Dari sisi tahun kalender (year-to-date/Y-to-D), Umar memaparkan inflasi Tarakan mencapai 2,01 persen hingga Oktober 2025. Ia menyebut, “Pergerakan inflasi sepanjang tahun ini relatif terkendali, namun tetap perlu diwaspadai terutama menjelang akhir tahun,” paparnya.
Kelompok pengeluaran yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi Y-on-Y adalah makanan, minuman, dan tembakau dengan kontribusi 1,13 persen. Umar menekankan kelompok ini selalu menjadi pendorong utama inflasi di Tarakan.
“Makanan dan minuman memang punya pengaruh besar terhadap pola konsumsi masyarakat, sehingga kenaikan kecil saja sudah berpengaruh ke inflasi,” ujarnya.
Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga memberikan andil sebesar 1,13 persen, menjadikannya salah satu penyumbang inflasi tertinggi setelah kelompok makanan. Umar menuturkan kenaikan pada komoditas perawatan diri terjadi sejalan dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat.
“Permintaan terhadap produk perawatan diri meningkat sehingga memicu kenaikan harga,” katanya.
Beberapa kelompok lain turut menyumbang inflasi meski lebih kecil, seperti transportasi (0,35 persen), perumahan dan utilitas (0,08 persen), penyediaan makanan dan minuman/restoran (0,18 persen), informasi dan keuangan (0,02 persen), serta pendidikan (0,03 persen).
“Meski kontribusinya kecil, kelompok-kelompok ini tetap mempengaruhi pembentukan inflasi kumulatif Tarakan,” tegasnya.
Namun, terdapat pula kelompok yang mengalami deflasi, yakni transportasi udara yang memberikan andil negatif yaitu –0,45 persen. Umar menyebut hal ini menjadi penahan laju inflasi. “Penurunan tarif angkutan tertentu membantu menekan inflasi di bulan ini,” imbuhnya.
Jika ditinjau secara tren tahunan dari Oktober 2024 hingga Oktober 2025, inflasi Tarakan bergerak fluktuatif dan sempat berada di titik rendah pada Februari dengan angka –0,68 persen sebelum terus naik hingga mencapai 2,45 persen pada Oktober 2025. Umar menuturkan bahwa tren ini menunjukkan pemulihan dan perubahan aktivitas ekonomi masyarakat.
“Pergerakan ini mencerminkan dinamika harga dan daya beli yang terus menyesuaikan,” ucapnya.
Dibandingkan kabupaten/kota lain di Provinsi Kalimantan Utara, Tarakan berada di posisi tengah dengan inflasi 2,45 persen, di bawah Tanjung Selor yang tercatat 2,50 persen, namun di atas Kabupaten Nunukan dengan inflasi 1,68 persen. Umar menegaskan bahwa kondisi ini mencerminkan variasi tekanan harga antarwilayah.
“Setiap daerah punya karakteristik konsumsi yang berbeda, sehingga inflasinya juga tidak sama,” bebernya.
Umar mengingatkan pengendalian inflasi tetap menjadi agenda utama pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Ia menegaskan, “Kami terus memantau perkembangan harga untuk memastikan stabilitas daya beli masyarakat,” tutupnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Endah Agustina







