benuanta.co.id, TARAKAN – Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Tarakan resmi meluncurkan Gerakan Sadar Pendaftaran Penduduk Nonpermanen (GASPEND) melalui kegiatan sosialisasi dan jemput bola di sejumlah kelurahan. Program ini digelar sebagai upaya memperkuat akurasi data kependudukan, terutama bagi warga pendatang yang tinggal sementara di Kota Tarakan.
Kepala Disdukcapil Tarakan, Hery Purwono, S.STP, menjelaskan kegiatan ini berangkat dari masih rendahnya kesadaran penduduk non permanen untuk melapor. Ia menyampaikan setiap warga yang tinggal sementara di Tarakan wajib melakukan pendaftaran sesuai ketentuan. “Kami melihat kesadaran masyarakat pendatang untuk melapor masih rendah, padahal mereka wajib mendaftarkan diri sebagai penduduk non permanen,” jelasnya, Ahad (16/11/2025).
Hery menuturkan GASPEND merupakan gerakan kolektif yang melibatkan seluruh kelurahan untuk memastikan penduduk non permanen tercatat dengan baik. Ia menegaskan bahwa gerakan ini bukan hanya program teknis, tetapi bagian dari pembangunan budaya sadar administrasi kependudukan. “GASPEND ini kami dorong bersama kelurahan agar masyarakat terbiasa sadar lapor,” katanya.
Menurutnya, pendataan penduduk non permanen sangat penting karena berhubungan langsung dengan akurasi data kependudukan yang menjadi dasar kebijakan pembangunan daerah. Banyak sektor seperti pendidikan, kesehatan, dan layanan sosial sangat bergantung pada data penduduk yang valid. “Ini bukan sekadar administrasi, tapi penentu arah pembangunan yang tepat sasaran,” tegasnya.
Hery juga mengingatkan ketidaktepatan data dapat berdampak pada layanan publik hingga potensi penurunan alokasi anggaran dari pemerintah pusat. Ia menyebut bahwa data yang tidak akurat bisa membuat penerima manfaat tidak sesuai kebutuhan. “Jika datanya tidak valid, pelayanan publik bisa meleset dan anggaran daerah bisa ikut terdampak,” ujarnya.
Dari kegiatan jemput bola yang telah dilakukan di beberapa kelurahan, Disdukcapil mulai memetakan sebaran warga non permanen di wilayah padat pendatang. Respon masyarakat dinilai cukup baik setelah dilakukan sosialisasi GASPEND. “Setelah dijelaskan, masyarakat jadi lebih terbuka dan mau didata,” imbuhnya.
Meski begitu, sejumlah kendala masih ditemui di lapangan. Tantangan utama adalah keterbatasan waktu karena banyak warga bekerja di luar rumah sehingga sulit ditemui oleh petugas. Ada juga warga yang khawatir prosesnya rumit. “Sebagian warga takut lapor karena merasa prosesnya berat, padahal ini hanya pendataan sederhana,” paparnya.
Disdukcapil juga menghadapi keterbatasan sumber daya manusia untuk menjangkau area yang luas. Namun Hery memastikan bahwa tantangan tersebut tidak menghambat keberlanjutan program. “Kendala SDM memang ada, tapi itu tidak menghentikan pelayanan kami,” katanya.
Program jemput bola pendataan penduduk non permanen akan terus dilaksanakan secara berkala dan disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Hery menegaskan bahwa tujuan jangka panjangnya adalah membangun budaya sadar lapor di masyarakat. “Kami berharap ke depan warga non permanen tidak perlu ditunggu atau didatangi lagi untuk melapor,” tandasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Ramli







