benuanta.co.id, TARAKAN — RSUD dr. H. Jusuf SK mengoptimalkan layanan radiologi dengan pemeriksaan MRI Lumbosacral, teknologi pencitraan yang mampu menghasilkan gambaran detail struktur tulang belakang bagian bawah tanpa radiasi.
Pemeriksaan ini menjadi pilihan utama bagi pasien dengan keluhan nyeri pinggang kronis hingga dugaan saraf terjepit, mengingat kemampuannya dalam menilai saraf, jaringan lunak, dan bantalan antar ruas tulang belakang dengan tingkat ketelitian tinggi.
Kepala Ruang Radiologi RSUD dr. H Jusuf SK, Muhlis, S.Tr.Kes, menjelaskan MRI Lumbosacral di rumah sakit ini menggunakan alat Magnetic Resonance Imaging (MRI) berkekuatan 0,4 tesla, yang bekerja menggunakan kekuatan medan magnet dan gelombang radiofrekuensi.
Ia menuturkan teknologi tersebut memungkinkan dokter melihat struktur jaringan secara detail tanpa paparan radiasi sama sekali. “MRI ini mampu memetakan jaringan lunak dan saraf secara sangat detail tanpa paparan radiasi,” jelasnya, Sabtu (15/11/2025).
Lebih jauh, Muhlis memaparkan prinsip kerja MRI yang selama ini jarang dipahami masyarakat. Ia menjelaskan alat ini bekerja dengan cara melepaskan energi radiofrekuensi ke arah proton dalam tubuh menggunakan medan magnet yang kuat, lalu proton merespon gelombang radiofrekuensi tersebut dan mengirimkan balik gelombang radiofrekuensi tersebut ke bagian alat MRI yang disebut coil reciver menghasilkan sinyal yang kemudian diolah menjadi gambar di monitor.
Proses tersebut, lanjutnya, membuat MRI sangat unggul dalam mendeteksi gangguan saraf, peradangan, dan kelainan jaringan lunak yang tidak dapat dilihat melalui rontgen maupun CT Scan.
“Setiap jaringan menghasilkan sinyal radiofrekuensi yang berbeda-beda, jadi gambarnya bisa sangat detail terutama pada jaringan saraf maupun jaringan lunak lainnya” ujarnya.
Muhlis membeberkan, RSUD dr. H. Jusuf SK saat ini memiliki dua unit MRI, yaitu pada bagian gantri ada satu alat berbentuk ‘donat’ dan satu lagi berbentuk ‘burger’. Namun, alat berbentuk ‘donat’ ini masih dalam tahap pemeliharaan sehingga yang beroperasi rutin adalah alat MRI berbentuk ‘burger’. Muhlis menegaskan alat tersebut tetap memberikan kualitas gambar klinis yang sangat baik.
“Kita punya dua alat, saat ini yang dipakai adalah MRI berbentuk ‘burger’ karena alat satunya sedang dalam maintenance,” katanya.
Sebelum pemeriksaan, pasien harus menjalani sejumlah persiapan penting seperti mengenakan pakaian khusus dan melepaskan seluruh benda logam termasuk jam tangan, cincin, peniti, ikat pinggang, hingga ponsel. Muhlis menyebut tindakan tersebut penting untuk menghindari gangguan sinyal maupun risiko keselamatan karena semua benda logam dapat tertarik oleh magnet MRI.
“Instruksi ini penting agar hasilnya maksimal dan aman,” tegasnya.
Muhlis juga menjelaskan adanya larangan ketat bagi pasien dengan alat pacu jantung atau implan logam tertentu untuk memasuki ruang MRI karena risiko gangguan fungsi alat maupun bahaya tarikan magnet. Keberadaan benda logam atau alat elektronik tertentu dapat memicu interferensi alat MRI atau membahayakan pasien.
“Kami melarang aktivitas seperti membawa alat logam tertentu karena bisa membahayakan keselamatan pasien,” imbuhnya.
Terkait proses pemindaian, Muhlis menyampaikan pasien akan diarahkan berbaring di meja pemeriksaan, kemudian area pinggang diposisikan dan dipindai selama minimal 30 menit. Pemeriksaan terdiri dari sekitar enam sekuens, dengan tiap sekuens berlangsung 5–7 menit.
“Pemeriksaan ini akan menghasilkan beberapa sekuens dan potongan gambar yang detail dan akan menentukan tindakan dokter selanjutnya,” terangnya.
Muhlis juga menambahkan pada dasarnya tidak ada persiapan khusus yang harus dilakukan pasien sebelum menjalani pemeriksaan MRI Lumbosacral. Ia menjelaskan pasien hanya perlu mengikuti arahan radiografer saat tiba di unit radiologi.
Sebelum masuk ke ruang MRI, setiap pasien akan melalui proses screening menggunakan alat khusus untuk memastikan tidak ada benda logam, implan tertentu, atau perangkat lain di tubuh yang dapat membahayakan selama pemeriksaan.
“Sebelum masuk, pasien kami screening dulu untuk memastikan tubuhnya bebas dari benda logam atau hal-hal yang dilarang. Proses ini penting untuk menentukan apakah pasien layak melanjutkan ke tahap pemindaian dan untuk mencegah risiko tarikan magnet atau gangguan pada kualitas gambar,” ujarnya.
Muhlis menuturkan MRI Lumbosacral jauh lebih unggul dalam menilai jaringan lunak dan saraf dibandingkan CT Scan maupun rontgen. Ia menyebut layanan MRI tersedia dalam dua jenis, yakni pemeriksaan tanpa kontras seharga Rp 3.500.000 dan dengan kontras seharga Rp 4.000.000, dimana keduanya ditanggung BPJS bagi pasien yang memenuhi syarat rujukan.
“Kontras digunakan untuk melihat peradangan, infeksi, atau tumor agar gambarnya lebih jelas,” tukasnya.
Sementara itu, Dokter Spesialis Radiologi RSUD dr. H Jusuf SK, dr. Nyoman Gunawan, Sp.Rad, menjelaskan MRI memiliki beberapa kontraindikasi, terutama bagi pasien dengan alat pacu jantung, klip otak tertentu, atau implan logam yang tidak kompatibel. Ia menegaskan medan magnet dapat mengganggu fungsi alat tersebut.
“Medan magnet bisa menarik atau mengganggu fungsi alat tersebut,” ujarnya.
dr. Nyoman memaparkan, pemeriksaan MRI Lumbosacral umumnya dilakukan untuk mendeteksi gangguan seperti herniasi nukleus pulposus (HNP), stenosis spinal, radikulopati, cedera, infeksi, serta berbagai kelainan tulang belakang lainnya. Ia menyebut pasien biasanya datang dengan keluhan nyeri pinggang bawah, kesemutan, atau gejala yang mengarah pada saraf terjepit.
“Kebanyakan pasien datang dengan keluhan nyeri pinggang bawah, kesemutan, atau dugaan saraf terjepit,” paparnya.
Selain itu, dr. Nyoman juga menegaskan pemeriksaan MRI tidak memiliki efek samping apa pun dan bekerja sepenuhnya dengan medan magnet yang aman bagi tubuh. Ia menyampaikan pasien tidak perlu merasa takut atau khawatir menjalani pemeriksaan ini.
Kondisi yang sering terjadi hanyalah ketidaknyamanan ringan akibat suara mesin MRI yang terdengar keras saat magnet bekerja. Ia menyebut suara tersebut merupakan bagian normal dari mekanisme kerja alat dan tidak menandakan bahaya.
“Pasien mungkin kurang nyaman dengan suara-suara dari magnetnya, tapi itu hanya terjadi selama proses pemindaian dan tidak berdampak apa pun pada kesehatan,” terangnya.
dr. Nyoman berharap masyarakat tidak menunda pemeriksaan apabila merasakan keluhan pada pinggang atau tulang belakang bawah yang mengarah pada gangguan saraf.
“Semakin cepat dideteksi, semakin cepat ditangani,” pungkasnya.
RSUD dr. H. Jusuf SK optimistis layanan MRI Lumbosacral ini akan memberikan manfaat besar dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui diagnosis yang lebih cepat, tepat, dan aman. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Endah Agustina







