RSUD dr. H Jusuf SK Miliki Layanan Mammografi, Standar Emas Deteksi Dini Kanker Payudara

benuanta.co.id, TARAKAN – RSUD dr. H Jusuf SK Tarakan kini menjadi satu-satunya rumah sakit di Kalimantan Utara yang memiliki layanan mammografi, yaitu pemeriksaan radiografi payudara menggunakan sinar-X dosis rendah untuk mendeteksi kelainan pada jaringan payudara.

Kepala Ruang Radiologi RSUD dr. H Jusuf SK, Muhlis, S.Tr.Kes, mengungkapkan pemeriksaan ini secara khusus ditujukan bagi wanita yang berisiko mengalami kanker payudara dibandingkan pria. “Pelayanan ini utamanya khusus untuk wanita, sebenarnya laki-laki juga bisa tapi masih sangat langka karena yang paling sering terkena adalah wanita,” ungkapnya, Rabu (12/11/2025).

Muhlis menjelaskan mammografi merupakan standar emas dalam mendeteksi dini kanker payudara dan sering digunakan sebagai metode skrining bagi wanita berisiko tinggi terkena kanker payudara. Pemeriksaan ini tidak hanya membantu mendeteksi kanker sejak dini, tetapi juga bertujuan untuk mengevaluasi adanya benjolan atau kelainan yang teraba, hingga menentukan tindakan lanjutan seperti biopsi atau operasi.

“Kenapa disebut standar emas ? Karena pemeriksaan ini bertujuan mendeteksi secara dini adanya kanker payudara, dapat mengevaluasi benjolan atau kelainan yang teraba, dan bisa untuk menentukan tindakan lanjutan seperti biopsi atau tindakan operasi,” ujarnya.

Lebih lanjut, Muhlis menerangkan secara prinsip mammografi bekerja menggunakan sinar-X dosis rendah, yaitu sekitar 20–35 kilovolt. Sinar tersebut diarahkan pada jaringan payudara yang dikompres ringan di antara dua plat khusus untuk menurunkan dosis radiasi serta meningkatkan ketajaman gambar.

Proses kompresi ini juga membantu meminimalkan gerakan dan menghasilkan citra yang lebih jelas sehingga interpretasi dokter yang lebih akurat.

“Pada prinsipnya mammografi itu bekerja dengan sinar-X dosis rendah yaitu sekitar 20–35 kilovolt yang mana sinar X tersebut diarahkan pada jaringan payudara yang dikompres ringan antara dua plat khusus lalu ditangkap oleh detektor kemudian diolah di perangkat komputer menjadi image radiografi payudara,” katanya.

Dalam hal peralatan, RSUD dr. H Jusuf SK menggunakan alat X-Ray Mammography dengan dukungan flat detektor CR (Computed Radiography), dimana hasil panyinaran yang ditangkap oleh flat detektor tersebut kemudian diproses secara digital melalui alat yang disebut reader dan ditampilkan pada monitor komputer dalam waktu sekitar 5 – 10 menit.

Sebelum pemeriksaan dilakukan, pasien diminta untuk melepaskan semua benda logam dan mengenakan pakaian khusus agar alat detektor dapat langsung bersentuhan dengan kulit payudara yang diperiksa.

“Nama alat yang digunakan adalah X-Ray Mammography dan alat detektor yang digunakan adalah CR (Computed Radiography), jadi kita menggunakan plat detektor kemudian diolah pada alat yaitu CR dan hasil gambarnya dipindahkan ke komputer,” jelasnya.

Muhlis juga menegaskan kesadaran pasien sangat berperan dalam melakukan pemeriksaan mammografi. Biasanya pasien datang karena adanya keluhan seperti benjolan atau rasa sakit pada payudara, namun pemeriksaan ini juga bisa dilakukan meskipun tanpa gejala sebagai langkah pencegahan.

“Mammografi ini dilakukan dari kesadaran pasien sendiri untuk memeriksakan diri, meskipun tanpa gejala pun sebenarnya bisa dilakukan, minimal 6 bulan sekali,” imbuhnya.

Dari segi pembiayaan, layanan mammografi di RSUD dr. H Jusuf SK tergolong terjangkau. Pemeriksaan ini ditanggung BPJS Kesehatan, sementara untuk pasien umum dikenakan tarif Rp500.000 karena gambar payudara diambil dari beberapa proyeksi yaitu dari atas ke bawah maupun dari samping, dan jika diperlukan kedua sisi payudara tetap diperiksa meskipun hanya satu yang dikeluhkan sebagai perbandingan.

“Kalau dari segi pembiayaan ditanggung BPJS, dan untuk pasien umum itu Rp500.000 karena pengambilan gambarnya diambil dari beberapa proyeksi seperti dari atas ke bawah dan dari samping,” terangnya.

Sebagai satu-satunya rumah sakit di Kalimantan Utara yang menyediakan layanan mammografi, RSUD dr. H Jusuf SK berperan penting dalam menekan angka kematian akibat kanker payudara. Keunggulan utamanya adalah kemampuan mendeteksi kanker dengan ukuran di bawah 1 cm, biaya yang relatif terjangkau, serta hasil gambar yang detail dan tajam.

“Kelebihannya bisa mendeteksi awal kanker yang berukuran di bawah 1 cm, biayanya relatif terjangkau, dan berperan penting untuk menurunkan angka kematian akibat kanker payudara,” lanjutnya.

Meski mammografi disebut sebagai standar emas, pemeriksaan ini juga dapat dilengkapi dengan USG mammografi untuk hasil yang lebih akurat dan saling melengkapi. Dengan kombinasi tersebut, diagnosis awal kanker payudara dapat ditegakkan sehingga memudahkan dokter menentukan langkah pengobatan berikutnya.

“Walaupun disebut standar emas, tapi juga didukung dengan pemeriksaan lain yaitu USG mammografi agar hasilnya saling melengkapi,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala Instalasi Radiologi RSUD dr. H Jusuf SK, dr. Andi Rizal, Sp.Rad, menuturkan mammografi merupakan salah satu pemeriksaan penting selain USG payudara, namun masih kurang dikenal masyarakat. Banyak masyarakat yang masih beranggapan pemeriksaan payudara cukup dilakukan dengan USG, padahal mammografi memiliki keunggulan tersendiri.

“Selama ini masyarakat beranggapan untuk melihat kelainan pada payudara itu cukup dengan pemeriksaan USG, padahal ada pemeriksaan lain yang belum familiar yakni mammografi,” ungkapnya.

dr. Andi Rizal menjelaskan mammografi menggunakan sinar-X dengan dosis yang sangat rendah sehingga risiko radiasi bagi pasien sangat minimal dan jauh lebih kecil dibandingkan manfaatnya. Ia juga mengakui bahwa bagian pemeriksaan di mana payudara ditekan atau dipres dapat menimbulkan sedikit rasa tidak nyaman, namun hanya berlangsung sebentar.

“Pemeriksaan mammografi ini menggunakan sinar-X minimal, jadi risiko radiasinya kecil dan rasa tidak nyaman saat payudara di-press akan hilang setelah pemeriksaan selesai,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menerangkan tujuan pemeriksaan mammografi dibagi dua, yakni deteksi dini dan diagnostik. Untuk deteksi dini, pemeriksaan diutamakan bagi pasien dengan faktor risiko seperti memiliki keluarga yang pernah menderita kanker payudara.

Sedangkan untuk diagnostik, dilakukan pada pasien dengan keluhan di payudara seperti nyeri, pembengkakan, atau benjolan akibat faktor hormonal, infeksi, maupun tumor. “Tujuannya dibagi dua, yaitu untuk deteksi dini dan diagnostik, terutama bagi pasien yang punya riwayat keluarga dengan kanker payudara,” bebernya.

Namun demikian, mammografi memiliki beberapa kontraindikasi yang harus diperhatikan. Pemeriksaan ini tidak disarankan bagi pasien hamil karena adanya risiko paparan radiasi terhadap janin, terutama pada trimester pertama kehamilan. Selain itu, pasien yang memiliki implan payudara juga tidak dianjurkan melakukan pemeriksaan ini karena proses kompresi dapat merusak implan.

“Pasien hamil dan pasien dengan implan payudara tidak disarankan menjalani mammografi karena bisa berdampak pada janin atau merusak implan,” paparnya.

dr. Andi Rizal pun mengimbau masyarakat, khususnya wanita, agar tidak menunda pemeriksaan bila merasakan ketidaknyamanan atau menemukan benjolan di payudara. Pemeriksaan dini dapat membantu mendeteksi penyakit sebelum menjadi parah.

“Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat khususnya pasien yang merasa tidak nyaman di payudara, entah itu karena nyeri atau ada benjolan, untuk segera melakukan pemeriksaan mammografi demi deteksi dini,” pungkasnya. (*)

Reporter: Eko Saputra

Editor: Endah Agustina

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *