benuanta.co.id, BULUNGAN – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi adanya potensi fenomena La Nina di sejumlah wilayah di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, yang diperkirakan terjadi pada November hingga Desember 2025. Meski demikian, fenomena tersebut diprediksi hanya berada pada kategori La Nina lemah dan bukan El Nino.
Forecaster BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Tanjung Harapan Tanjung Selor, Cristianto Sihombing, menjelaskan berdasarkan hasil pemantauan dinamika atmosfer dan lautan, potensi La Nina lemah ini akan mulai terdeteksi sejak November 2025 hingga Februari 2026.
“Potensi itu berupa La Nina lemah, bukan El Nino. Berdasarkan analisis kami, La Nina lemah diprediksi terjadi mulai November 2025 sampai Februari 2026,” katanya, Selasa (12/11/2025).
Menurut Cristianto, fenomena La Nina merupakan fase pendinginan suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang mendorong peningkatan aliran massa udara lembab dari wilayah samudra menuju Indonesia. Kondisi ini berdampak pada meningkatnya curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan Utara dan Kabupaten Bulungan.
“La Nina ini adalah fase dingin yang membawa lebih banyak angin basah ke wilayah Indonesia. Dampaknya, curah hujan di Kaltara akan meningkat di atas kondisi normal, sehingga cuacanya cenderung lebih basah dari biasanya,” jelasnya.
Peningkatan curah hujan ini juga menandakan datangnya puncak musim hujan yang diperkirakan berlangsung mulai November hingga Desember 2025. Dengan kondisi tersebut, BMKG mengimbau agar masyarakat serta pemerintah daerah lebih waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, hingga genangan di wilayah rendah.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan banjir bandang dan tanah longsor, terutama bagi warga yang tinggal di wilayah dengan topografi curam atau di dekat aliran sungai,” tambahnya.
Cristianto juga menjelaskan bahwa sejauh ini BMKG belum mendeteksi adanya indikasi El Nino, atau fase pemanasan yang berlawanan dengan La Nina. Berdasarkan hasil monitoring, kondisi atmosfer dan laut di Pasifik saat ini justru menunjukkan dominasi anomali suhu yang lebih dingin, mengarah pada terbentuknya La Nina lemah.
“Saat ini belum terdeteksi adanya potensi El Nino. Yang terpantau justru La Nina lemah yang memicu peningkatan curah hujan di sebagian wilayah,” terangnya.
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa intensitas hujan tinggi diperkirakan akan lebih sering terjadi pada malam hari selama periode tersebut. Masyarakat diminta untuk selalu memantau informasi cuaca dari BMKG dan meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi petani, nelayan, serta pihak-pihak yang beraktivitas di luar ruangan.
“Kami harap masyarakat tetap memperhatikan informasi cuaca harian. Karena selain curah hujan tinggi, potensi petir dan angin kencang juga bisa menyertai fenomena ini,” pungkasnya. (*)
Reporter: Ike Julianti
Editor: Ramli







