benuanta.co.id, TARAKAN – Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tarakan mencatat adanya gempa susulan pasca gempa utama berkekuatan 4.8 SR yang terjadi pukul 18.37 WITA pada Rabu, 5 November 2025.
Gempa susulan terdeteksi terjadi 5 kali. Pertama, sekira pukul 23.21 WITA dengan titik koordinat 3.29 LU, 117.75 BT 18 km Tenggara Tarakan-Kaltara dengan kekuatan 2.7 SR. Kedua, pada Kamis, 6 November 2025 sekira pukul 01.18 WITA terdapat lagi gempa susulan pada titik koordinat yang sama dengan kekuatan 2.4 SR.
Ketiga, terjadi sekira pukul 01.53 WITA dengan kekuatan 2.5 SR. Keempat, gempa susulan terjadi sekira pukul 04.32 WITA dengan kekuatan 2.5 SR dan kelima terjadi sekira pukul 06.27 WITA dengan kekuatan gempa 2.6 SR.
Kepala BMKG Tarakan, M Sulam Khilmi menerangkan, gempa susulan terjadi dengan kekuatan magnitudo yang lebih kecil. “Titiknya sama. Sampai tadi pagi ya masih ada gempa susulan. Tapi ya kecil sih, 2,5 gitu ya, 2,7 gitu,” terangnya.
Adapun sejauh ini, gempa susulan secara historis selalu lebih kecil dibandingkan dengan gempa utama. Khilmi menegaskan, dengan adanya guncangan yang terjadi juga tidak berpotensi tsunami.
“Walaupun yang kita rasakan memang guncangannya cukup besar, namun setelah dianalisiskan, itu 4,8 SR. Nah, kalau 4,8 itu aman, nggak akan terjadi tsunami,” tuturnya.
Khilmi juga menanggapi terkait desakan masyarakat terhadap prediksi gempa susulan. Hingga saat ini belum terdapat alat yang bisa memprediksi kapan terjadinya gempa.
“Yang kita bisa sampaikan adalah suatu daerah itu memiliki potensi gempa, bersamaan dengan adanya atau keberadaan sesar di situ atau patahan. Seperti kita ketahui bahwa di Tarakan ini ada patahan Tarakan. Nah, ini kan menyimpan potensi gempa. Itu yang perlu diwaspadai,” bebernya.
Ia memaklumi dan memahami kekhawatiran masyarakat terkait bencana ini. Namun, Khilmi menekankan masyarakat harus menyadari bagaimana respons yang seharusnya ketika terjadi gempa bumi.
“Kita harus mempunyai respons yang tenang, kemudian benar secara SOP, nggak panik. Kemudian tidak menyebarkan berita-berita yang tidak berdasarkan dari sumbernya, atau berita hoaks. Kemudian selalu perbarui informasi dari BMKG,” pungkasnya. (*)







