benuanta.co.id, TARAKAN – Kehadiran Sekolah Rakyat (SR) di Kota Tarakan menjadi jawaban bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu agar tetap bisa mengenyam pendidikan yang layak. Program ini ditujukan khusus bagi mereka yang masuk kategori miskin ekstrem (desil 1) maupun warga miskin (desil 2).
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Tarakan, Arbain menjelaskan, sekolah rakyat memberikan fasilitas lengkap, mulai dari ruang belajar hingga asrama, tanpa membebankan biaya kepada orang tua.
“Sekolah rakyat ini memang program pemerintah pusat. Semua gratis, tidak ada pungutan,” ungkapnya, Selasa (30/9/2025).
Ia menuturkan, sekolah rakyat di Tarakan masuk kategori 1C. Artinya, sarana-prasarana seperti gedung, ruang kelas, hingga asrama disediakan oleh Pemerintah Kota Tarakan melalui APBD. Sementara biaya operasional pendidikan, termasuk gaji guru dan aktivitas pembelajaran, ditopang oleh pemerintah pusat.
Konsep ini berbeda dengan sekolah rakyat kategori 1A dan 1B yang sepenuhnya menjadi aset dan tanggung jawab kementerian.
“Kalau tipe A dan B, asetnya dari pusat dan pembiayaannya juga oleh kementerian. Sementara yang 1C ini aset pemerintah daerah, tapi tetap ada dukungan dari APBN,” jelas Arbain.
Pemkot Tarakan sudah menyiapkan lahan seluas 7,2 hektare di Jalan Cepung, Labindo, sebagai lokasi pembangunan gedung permanen. Lahan tersebut telah memenuhi syarat dan diprioritaskan agar pembangunan segera direalisasikan.
“Di situ sudah lengkap, ada lahan untuk lapangan dan fasilitas lainnya. Tinggal menunggu proses pembangunan dari pusat,” katanya.
Selain menanggung biaya pendidikan, sekolah rakyat juga menanggung kebutuhan dasar siswa. Anak-anak akan tinggal di asrama, makan di dapur umum yang tersedia, dan mendapat fasilitas belajar yang sama. Namun, pihak sekolah tetap membuka ruang bagi orang tua untuk berkunjung.
“Orang tua boleh menemani anak di awal, sampai mereka terbiasa. Nantinya kunjungan akan dijadwalkan, misalnya sebulan sekali,” tambahnya.
Arbain menegaskan, program ini lahir agar anak-anak dari keluarga tidak mampu tidak kehilangan hak pendidikan.
Dengan fasilitas gratis dan pendampingan tenaga pengajar, sekolah rakyat diharapkan mampu melahirkan generasi yang berdaya saing tanpa terbebani biaya. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Yogi Wibawa







