Harga Emas Terus Naik, Generasi Muda Tarakan Mulai Beralih ke Tabungan Emas

benuanta.co.id, TARAKAN – Harga emas dalam sepekan terakhir mengalami lonjakan signifikan. Kenaikan ini terjadi hingga empat kali dalam kurun waktu seminggu. Dari awal pekan yang masih di angka Rp2.080.000 per gram, kini per Rabu (24/9/2025), sudah tembus Rp2.172.000 per gram.

Kondisi tersebut membuat masyarakat mulai melirik emas sebagai instrumen investasi yang lebih aman di tengah ketidakpastian ekonomi global. Bahkan sebagian besar nasabah kini memanfaatkan momen kenaikan harga emas untuk menambah jumlah simpanan mereka.

Manager Bisnis Penggadaian Syariah Cabang Tarakan, Dewi Mayangsari menjelaskan, kenaikan harga emas lebih banyak berdampak pada nilai jaminan nasabah. Dirinya menyebut, bunga pinjaman tidak terpengaruh, hanya saja nilai emas yang dijaminkan otomatis meningkat.

Baca Juga :  Tim Gabungan Sidak Beras di Tanjung Selor, Temukan Harga di Atas HET dan Label Tak Sesuai

“Kalau nasabah tidak menambah pinjaman, sewa modalnya tetap sama. Yang naik hanya nilai emasnya. Tapi kalau nasabah mau ajukan tambah pinjaman, bisa karena nilai emasnya naik,” ungkapnya, Rabu (24/9/2025).

Selain itu, tren investasi emas di Tarakan justru semakin ramai. Masyarakat lebih memilih emas sebagai cara menyimpan aset karena mudah dicairkan dibandingkan tabungan konvensional.

Baca Juga :  Gentengnisasi Dinilai Tak Bisa Disamaratakan di Kaltara

“Banyak nasabah yang sadar bahwa emas lebih aman untuk jangka panjang. Paling cepat juga bisa dicairkan,” tambahnya.

Fenomena ini paling banyak terlihat pada generasi muda. Sekitar 30 persen dari nasabah di antaranya memilih menabung emas dibanding menabung uang. Ia mencontohkan, keuntungan investasi emas dalam jangka panjang jauh lebih besar.

“Kalau tabung uang, bunganya hanya 2 sampai 5 persen. Tapi emas bisa naik sampai 30 persen. Contoh saya dulu beli 50 gram emas total Rp26 juta, sekarang nilainya sudah Rp89 juta,” jelasnya.

Baca Juga :  Gubernur Kaltara Dorong Penguatan Konservasi Mangrove dan Bekantan di Tarakan

Kendati demikian, ia mengingatkan masyarakat agar tidak sepenuhnya mengalihkan dana ke emas. “Kita tetap harus punya uang cash. Jangan semua dibuat tabungan emas,” tegasnya.

Dewi juga menyebut, tren pembelian emas saat ini sudah mulai bergeser. Jika sebelumnya masyarakat lebih banyak membeli perhiasan, kini sekitar 50 persen sudah beralih ke emas batangan dan tabungan emas. Hal ini menunjukkan generasi muda, khususnya Gen Z, sudah semakin sadar akan pentingnya investasi jangka panjang. (*)

Reporter: Sunny Celine

Editor: Yogi Wibawa

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *