benuanta.co.id, TARAKAN – Isu kenaikan tarif Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Alam Tarakan ramai dibicarakan belakangan ini. Namun, pihak perusahaan menegaskan kabar tersebut tidak benar.
Direktur Perumda Tirta Alam Tarakan, Iwan Setiawan, menyebut yang dilakukan hanyalah penyesuaian abodemen, bukan tarif. Menurutnya, abodemen merupakan tabungan pelanggan yang digunakan untuk biaya penggantian meteran air maupun peralatan lain jika terjadi kerusakan.
“Kalau meteran tiba-tiba rusak, pelanggan harus menanggung biaya pergantian yang bisa mencapai Rp2,5 juta. Agar tidak memberatkan, biaya ini dimasukkan ke abodemen yang selama 13 tahun tidak pernah disesuaikan,” jelasnya.
Ia mencontohkan, jika abodemen sebesar Rp26 ribu dikalikan dalam jangka 5 tahun, totalnya hanya Rp1,56 juta. Padahal biaya pergantian satu meteran mencapai Rp2,5 juta, sehingga sisanya masih ditanggung PDAM. Karena itu, ia menegaskan hal ini tidak bisa disebut sebagai kenaikan tarif.
Dirinya juga membandingkan tarif air bersih di Tarakan yang masih jauh lebih rendah dibanding daerah lain di Kalimantan Utara. Di Kabupaten Tana Tidung, tarif dasar untuk sosial sudah Rp5.600, sedangkan di Tarakan hanya Rp1.400. Untuk pelanggan rumah tangga kategori kurang mampu, tarif dasar masih Rp2.200, sementara di daerah lain bisa mencapai Rp5.750.
“Tarif kita masih yang termurah. Jadi tidak benar kalau ada yang mengatakan PDAM Tarakan menaikkan tarif hingga 150 persen,” tegasnya.
Iwan juga menyesalkan adanya framing negatif yang seolah-olah perusahaan sengaja membebani pelanggan. Ia menilai isu tersebut berbahaya karena bisa merusak kepercayaan masyarakat terhadap PDAM dan berpengaruh pada keberlangsungan pelayanan air bersih.
“Kalau pelayanan air bersih terganggu karena framing jahat, masyarakat juga yang dirugikan. Kami terbuka untuk berdialog, bahkan siap membuka data agar publik tahu kondisi sebenarnya,” ujarnya.
Selain soal abodemen, saat ini PDAM Tarakan juga sedang melakukan peremajaan jaringan pipa dengan teknologi Horizontal Directional Drilling (HDD). Teknologi ini memungkinkan pemasangan pipa tanpa harus membongkar jalan secara besar-besaran. Proyek yang menelan anggaran sekitar Rp17 miliar tersebut ditargetkan selesai dalam 100 hari kerja.
“Ini upaya kami meningkatkan kehandalan suplai air, terutama ke wilayah pesisir Tarakan. Semua dibiayai mandiri dari PDAM, tanpa dana APBD,” tutupnya. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Endah Agustina







