benuanta.co.id, TARAKAN – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tarakan mengingatkan masyarakat pesisir dan nelayan di Kalimantan Utara agar mewaspadai aktivitas angin selatan yang kini sedang dominan berembus.
Fenomena ini berdampak langsung terhadap kondisi gelombang di laut, terutama pada periode puncaknya di musim kemarau.
Kepala BMKG Tarakan, M. Sulam Khilmi, menjelaskan, angin selatan merupakan hembusan angin dari Australia menuju Indonesia. “Arah angin itu ditentukan dari mana asalnya. Kalau angin selatan berarti dari selatan ke utara. Di Kaltara, dampaknya cukup terasa di perairan,” ungkapnya.
Ia menerangkan, aktivitas angin selatan umumnya meningkat sejak akhir Juni hingga September, bahkan bisa berlanjut sampai awal Oktober. Pada periode itu, kecepatan angin cenderung lebih kencang dibanding bulan lain, yang memicu kondisi gelombang lebih tinggi di laut.
Berdasarkan catatan BMKG, pada akhir Agustus lalu kecepatan angin tercatat mencapai 27 knot atau setara 50 kilometer per jam. Kondisi tersebut memicu gelombang hingga dua meter di perairan Kaltara. Angka ini sudah tergolong ekstrem karena ambang potensi bahaya angin berada di kisaran 25 knot.
“Dampaknya salah satunya adalah gelombang tinggi. Ini perlu jadi perhatian serius bagi saudara-saudara kita yang beraktivitas di perairan,” katanya.
Guna meminimalisir risiko, BMKG secara aktif membagikan informasi peringatan dini melalui berbagai kanal resmi maupun grup komunikasi nelayan. Dirinya menyebut, pihaknya juga rutin berdialog langsung dengan organisasi nelayan agar mereka lebih mudah memahami perkiraan cuaca dan kondisi laut.
Selain itu, ia mengimbau agar para nelayan selalu memperbarui informasi dari sumber resmi BMKG sebelum melaut. “Mohon perhatikan sekecil apa pun perubahan cuaca. Keselamatan itu yang utama, jadi lebih baik menunda aktivitas bila potensi cuaca ekstrem terpantau,” pesannya.
Dengan prediksi angin selatan yang masih akan bertahan hingga awal Oktober, BMKG berharap kewaspadaan tetap dijaga, terutama bagi nelayan kecil maupun pengguna transportasi laut tradisional. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Ramli







