Harmoni Umat Beragama Warnai Kota Tarakan

benuanta.co.id, TARAKAN – Jumlah penduduk Kota Tarakan tahun 2025 tercatat sebanyak 255.310 jiwa. Angka tersebut naik 2,14 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sekaligus menggambarkan dinamika keragaman umat beragama di wilayah perbatasan ini.

Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Kota Tarakan, H. Syopyan, S.Ag., M.Pd., menyampaikan mayoritas penduduk beragama Islam. Ia menjelaskan jumlah pemeluk Islam mencapai 218.712 jiwa atau 85,65 persen dari keseluruhan populasi.

“Komposisi ini menunjukkan Islam masih menjadi agama dengan penganut terbanyak di Kota Tarakan,” jelasnya, Kamis (4/9/2025).

Selain Islam, ia menuturkan umat Kristen menempati posisi kedua terbesar dengan jumlah 24.477 jiwa atau 9,58 persen. Syopyan menilai komunitas Kristen memiliki kontribusi penting dalam kehidupan bermasyarakat.

Baca Juga :  Dinkes Tarakan Catat Satu Kasus Leptospirosis di Awal 2026

“Setelah itu disusul Kristen yang menjadi agama terbesar kedua setelah Islam di Tarakan,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan penduduk Katolik berjumlah 9.048 jiwa atau 3,54 persen. Menurutnya, meskipun persentasenya relatif kecil, eksistensi umat Katolik tetap menjadi bagian penting dalam membangun kebersamaan.

“Mereka tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat Tarakan,” ungkapnya.

Di sisi lain, jumlah umat Buddha di Tarakan mencapai 1.890 jiwa atau 1,132 persen. Syopyan menegaskan keberadaan pemeluk Buddha memperlihatkan wajah pluralitas Tarakan yang terjaga. “Buddha juga hadir dalam kehidupan masyarakat dan ikut menjaga harmoni,” lanjutnya.

Baca Juga :  DPRD Kaltara Tinjau Kesiapan Pelabuhan Malundung Jelang Arus Mudik 2026

Adapun umat Hindu, lanjutnya, tercatat sebanyak 93 jiwa atau sekitar 0,036 persen. Meski jumlahnya tidak besar, Syopyan memastikan bahwa seluruh pemeluk Hindu tetap dihormati dalam bingkai keberagaman.

“Hindu tetap menjadi bagian dari data kependudukan agama di Tarakan,” ucapnya.

Ia menambahkan umat Konghucu di Tarakan berjumlah 87 jiwa atau 0,034 persen, sedangkan penghayat kepercayaan hanya 4 jiwa atau 0,002 persen. Bagi Syopyan, catatan kecil ini justru menegaskan semua keyakinan tetap diakui negara.

Baca Juga :  Jelang Imlek 2026, Warga Tionghoa Mulai Padati Kelenteng

“Semua pemeluk agama dan kepercayaan diakui keberadaannya dalam kerangka kebhinekaan,” tuturnya.

Dengan komposisi tersebut, ia menekankan pentingnya memelihara kerukunan antarumat beragama di Tarakan. Menurutnya, keragaman ini harus menjadi modal utama dalam pembangunan kota.

“Hidup rukun dalam perbedaan adalah modal utama membangun Tarakan,” tegasnya.

Syopyan juga mengajak masyarakat agar tidak hanya melihat data ini sebagai angka statistik, melainkan sebagai pengingat akan tanggung jawab bersama. Ia menilai keberagaman adalah kekuatan yang harus dijaga.

“Keragaman agama adalah kekayaan yang harus kita rawat,” pungkasnya. (*)

Reporter: Eko Saputra

Editor: Endah Agustina

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *