benuanta.co.id, TARAKAN – Kasus pelajar SMA yang terlibat penyalahgunaan narkoba di Kalimantan Utara menimbulkan kekhawatiran banyak pihak. Dari sudut pandang psikologi, masa remaja memang disebut sebagai fase yang rawan, karena dorongan untuk mencoba hal baru dan rasa ingin tahu begitu besar.
Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Wilayah Kalimantan Utara, Sulistiyowati mengatakan, di usia ini anak-anak membutuhkan aktivitas positif untuk mengalihkan energi fisik mereka. Selain itu, penguatan psikis sejak dini juga penting, terutama yang ditanamkan oleh keluarga inti maupun orang dewasa terdekat.
“Pemberian informasi dan edukasi tentang zat adiktif sejak dini membuat anak lebih berhati-hati dalam menyikapi ajakan untuk mencoba,” ujarnya.
Ia menilai peran orang tua dan sekolah sangat berpengaruh dalam perkembangan mental anak. Dukungan yang diberikan dalam menghadapi tuntutan fase pertumbuhan akan membuat anak lebih percaya diri, positif terhadap diri sendiri, dan lebih bahagia.
Kondisi itu juga membantu mereka menghindari pilihan-pilihan berisiko seperti penggunaan Narkoba.
Dari sisi psikologis, ada sejumlah faktor yang membuat anak bisa terjerumus. Rasa ingin tahu yang tinggi, pencarian jati diri, serta keinginan mencoba sesuatu yang dianggap unik atau keren, sering menjadi pemicu awal.
Selain itu, kesulitan dalam mengelola emosi akibat tekanan akademik, permasalahan keluarga, maupun interaksi sosial turut memengaruhi.
Faktor lain adalah kebutuhan akan penerimaan sosial, rendahnya rasa percaya diri, dan keterbatasan kemampuan mengambil keputusan. Hal-hal tersebut menjadikan remaja mudah terbawa arus lingkungan tanpa mempertimbangkan risiko.
“Penggunaan zat adiktif jelas akan berpengaruh pada kondisi mental seseorang di kemudian hari,” tegasnya.
Dirinya menekankan, pendampingan yang menyeluruh perlu dilakukan agar kasus serupa tidak terulang. Pendampingan itu meliputi aspek psikologis, sosial, spiritual, moral, bahkan medis bila dibutuhkan.
Dukungan dari orang-orang terdekat dinilai penting untuk membantu anak mengenali faktor pemicu yang bisa membuat mereka tergoda kembali.
Lebih jauh, ia mengimbau seluruh pihak untuk berkolaborasi dalam melindungi anak dari jeratan Narkoba.
Stakeholder diharapkan menjalankan tugas sesuai kewenangannya dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat.
“Sangat ideal bila keluarga menjadi benteng utama. Emosi negatif seperti kesepian, minder, merasa terabaikan, tidak berguna, serta tekanan berlebih di rumah bisa menjadi awal anak mencoba zat adiktif,” pungkasnya. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Ramli







