benuanta.co.id, TARAKAN – Sesosok mayat laki-laki ditemukan terbujur kaku di depan Pelabuhan Malundung, Kota Tarakan, pada Sabtu siang (16/8/2025) lalu.
Diketahui, korban kerap tinggal di sekitar kawasan pelabuhan dan sempat mendapatkan bantuan medis serta penanganan dari Dinas Sosial (Dinsos) Kota Tarakan.
Kapolsek Kawasan Pelabuhan (KSKP) Tarakan IPTU Yazwar, S.H., S.E., M.HP., saat dikonfirmasi membenarkan kejadian tersebut. Korban berinisial R juga dikenal dengan alias S dan T, berusia 33 tahun, berasal dari Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan.
Berdasarkan informasi dari kepolisian, korban tidak memiliki pekerjaan tetap dan hidup dalam kondisi terlantar di sekitar pelabuhan.
“Korban ini sebelumnya lsudah pernah kami bantu. Pada hari Ahad (3/8/2025), kami bawa ke rumah sakit karena kondisinya sakit. Setelah itu kami serahterimakan ke Dinas Sosial untuk mendapatkan penanganan lanjutan,” jelasnya, Selasa (19/8/2025).
Namun belakangan, korban kembali terlihat di kawasan pelabuhan, tepatnya di sekitar kontainer tempat biasa ia tidur. Beberapa warga dan petugas pelabuhan yang mengenal korban mengaku kerap memberinya makan. Hingga akhirnya, pada Sabtu siang, saat hendak diberikan makanan, korban ditemukan sudah tidak bernyawa.
“Saat diberi makan siang, korban dibangunkan oleh salah satu orang yang sering memberinya makan, tapi tidak merespons. Setelah dicek, ternyata korban sudah meninggal,” ungkapnya.
Pihak kepolisian langsung melakukan tindakan lanjutan dengan berkoordinasi bersama tim Identifikasi Polres Tarakan. Dari hasil olah TKP dan pemeriksaan awal, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
“Kalau dilihat secara kasat mata, tidak ada tanda-tanda kekerasan. Tubuh korban tampak sangat kurus, seperti tinggal kulit dan tulang. Jadi dugaan sementara, korban meninggal karena sakit. Tapi tentu kita tetap menunggu hasil visum dari rumah sakit untuk memastikan,” terangnya.
Meski hidup terlantar, pihak kepolisian menegaskan bahwa korban tidak menunjukkan tanda-tanda gangguan kejiwaan.
“Korban ini sebenarnya bukan warga Tarakan, dia perantauan. Mungkin tidak memiliki keluarga di sini. Itu sebabnya kami dulu serahkan ke Dinas Sosial. Namun tampaknya korban menolak tinggal di tempat penampungan dan kembali ke pelabuhan,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Endah Agustina







