Margiyono: Bandara Internasional Juwata Perkuat Komunitas Ekonomi Perbatasan

benuanta.co.id, TARAKAN – Status Bandara Juwata Tarakan kini resmi kembali menjadi bandara internasional. Pengembalian status ini dinilai sebagai langkah yang memang sudah seharusnya dilakukan, mengingat posisi Tarakan yang berbatasan langsung dengan Malaysia memiliki karakteristik tersendiri.

Peran bandara tidak hanya sebagai fasilitas transportasi, tetapi juga penghubung ekonomi, sosial, dan budaya antarnegara. Pengamat Ekonomi Tarakan, Dr. Margiyono, S.E.,M.Si mengatakan setiap wilayah memiliki ciri khas yang memengaruhi fungsi bandaranya.

Tarakan sejak lama menjadi pintu gerbang utama bagi mobilitas lintas batas, sehingga keberadaan jalur udara internasional menjadi kebutuhan.

Ia mengungkapkan, penerbangan internasional dari Tarakan sudah berlangsung sejak 1993 ketika dirinya bekerja di bandara sebagai porter maskapai penerbangan perintis.

Kala itu, Bali Air di bawah Bouraq Airlines melayani rute ke Tawau dan Sandakan. Selain itu, Malaysia Air System juga pernah beroperasi menggunakan pesawat CN235 berkapasitas 25–30 kursi, meski jadwalnya tidak setiap hari, hanya 2–3 kali seminggu.

Baca Juga :  BPJS Ketenagakerjaan Tarakan Sosialisasikan Permenko No. 1 Tahun 2026: Lindungi Nasabah KUR Melalui Jaminan Sosial

Fakta ini, lanjutnya, menunjukkan adanya hubungan erat antara Indonesia dan Malaysia di wilayah perbatasan yang ia sebut sebagai komunitas ekonomi.

Hubungan ini tidak sepenuhnya dibatasi garis negara, melainkan terikat ketergantungan ekonomi, sosial, dan budaya yang sudah terbentuk jauh sebelum Indonesia dan Malaysia berdiri sebagai negara masing-masing.

“Keterikatan itu menciptakan arus orang, arus barang, dan arus uang. Masyarakat Tarakan atau Bulungan banyak yang punya keluarga di Tawau atau Sarawak, begitu juga sebaliknya. Mereka saling berkunjung, menghadiri acara keluarga, mengirim barang, bahkan bertransaksi,” jelasnya.

Margiyono menilai penghentian penerbangan ke Malaysia beberapa waktu lalu mengabaikan karakteristik komunitas ekonomi tersebut. Padahal, arus kunjungan masyarakat lintas batas sering memicu pergerakan barang seperti oleh-oleh, kebutuhan rumah tangga, hingga perdagangan skala kecil.

Ia juga menambahkan, sebagian masyarakat Kaltara terbiasa memegang ringgit, sementara warga Malaysia di perbatasan familiar dengan rupiah. “Itulah dampak dari interaksi ekonomi komunitas. Pemerintah seharusnya memfasilitasi, baik melalui jalur udara maupun laut. Jalur laut relatif tidak masalah karena tetap berjalan, tapi jalur udara pernah terhenti,” ujarnya.

Baca Juga :  Berjuang Bentuk Koperasi, Ojol Tarakan Dibayangi Pesimisme

Dengan status internasional yang telah kembali, ia menilai jalur penerbangan dari Tarakan ke beberapa kota di Sarawak adalah keniscayaan. Namun, ia menekankan bahwa tantangan terbesar Kaltara adalah meningkatkan daya saing produk ekspor.

Selama ini, produk yang dikirim ke Malaysia sebagian besar bukan hasil industri lokal, melainkan barang dari daerah lain seperti rokok dan produk dari Jawa. Komoditas lokal seperti ikan segar, kakao, sawit, dan udang pun dikirim dalam bentuk mentah. “Kalau hanya menjual barang mentah, nilai tambah kita rendah. Pengolahan dilakukan di Malaysia, mereka yang dapat manfaatnya,” tegasnya.

Margiyono mendorong pemerintah membangun industri pengolahan di Kaltara agar dapat mengekspor barang jadi dengan nilai ekonomi lebih tinggi. Prinsipnya, nilai utilitas yang diperoleh kedua belah pihak dalam perdagangan harus seimbang. Ia menilai ini kesempatan untuk memanfaatkan penerbangan internasional sebagai jalur ekspor produk bernilai tambah.

Baca Juga :  IOH dan Nokia Edukasi Mahasiswa Kaltara tentang Literasi Digital dan AI

Ia juga melihat potensi pariwisata yang bisa digarap. Pemerintah daerah diminta mempromosikan destinasi menarik agar wisatawan dari Malaysia, Filipina, dan Brunei tertarik datang. Dalam hal ini, kerja sama regional BIMSEGA (Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina – East ASEAN Growth Area) dapat menjadi platform pengembangan perdagangan, pariwisata, dan konektivitas yang lebih luas.

“Kalau pertumbuhan ekonomi meningkat, penerbangan akan lebih intens, penumpang lebih banyak, wisatawan bertambah, pendapatan asli daerah naik, hotel terisi, dan bandara lebih ramai. Pajak penumpang juga akan meningkat. Semua pihak akan diuntungkan jika momentum ini dimanfaatkan untuk membangun industri, meningkatkan ekspor, dan menciptakan lapangan kerja,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sunny Celine

Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *