Asbullah Tak Menyangka Sesingal Buatannya Sukses Raup Keuntungan

benuanta.co.id, TANA TIDUNG – Sesingal atau singal Tidung merupakan seni lipat masyarakat tradisional suku Tidung. Singal ini berfungsi untuk menutup kepala yang memang dikhususkan untuk kaum laki-laki, sekaligus menjadi aksesoris yang bisa digunakan dalam kegiatan apapun dan siapapun, berawal dari hobi kini menjadi usaha utama.

Seorang pengrajin sesingal yang berasal dari Kecamatan Sesayap Hilir, Kabupaten Tana Tidung (46), Asbullah, mengatakan dirinya tak pernah memikirkan untuk membuat usaha sesingal, karena tidak yakin hal ini bisa berkembang dan menjadi usaha yang sukses.

“Saya punya sesingal yang belikan sama sepupu saya di Tarakan, jadi malam itu bosan gak tahu mau ngapain saya coba lah buka itu lipatan sesingal dan saya pasang kembali ke bentuk semula, bisa tapi tidak sebagus awalnya,” katanya. (11/8/2025).

Baca Juga :  PT MIP ‘Sulap’ Desa Menjelutung Menjadi Desa Kakao

Sesingal yang telah jadi ia pajang oleh Asbullah di dinding rumahnya, saat kedatangan keluarganya sesingal tersebut tiba-tiba dibeli seharga Rp 200 ribu, sejak saat itu terlintas dipikirannya untuk membuat sesingal tersebut dan dijual.

“Saya bilang ini lumayan juga jadi uang kan, padahal gak ada niatan saya mau menjual singal itu, jadi saya mulai lah memproduksi lebih,” tambahnya.

Baca Juga :  PT MIP ‘Sulap’ Desa Menjelutung Menjadi Desa Kakao

Bermodalkan potongan kain batik dan kain tetoron yang memang khusus untuk sesingal dengan panjng 5 meter, ia menghasilkan 4 sesingal pertamanya. Dan menghasilkan Rp 700 ribu, uang tersebut terus dimodalkan untuk mengebangkan usaha sesingalnya sampai saat ini.

“Saya sempat mempromosikan sesingal ini ke pemda tapi lama jawaban dari atas kan, ternyata kualitas sesingal saya kurang baik tidak seperti yang di Tarakan, tapi saya tidak putus asa saya coba terus sampai akhirnya yang promosi kedua kalinya diterima,” jelasnya.

Baca Juga :  PT MIP ‘Sulap’ Desa Menjelutung Menjadi Desa Kakao

“Untuk pasaran sudah sampai di Berau, Kaltara ini juga sudah bahkan saya sudah bawa sampai Brunei Darussalam sana di pesan teman, daerah Jawa sana juga sudah kadang dibawa sama orang Pemda yang tugas dibuatkan suvenir,” lanjutnya.

Saat ini bisa menghasilkan sepuluh sesingal per hari walaupun dalam kondisi mendesak dari pemesan, harga sesingal dimulai dari Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu. Adapun usaha sesingal ini dimulai dari tahun 2021 sampai saat ini. (*)

Reporter: Kurniawin
Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *