benuanta.co.id, TARAKAN – Rektor Universitas Borneo Tarakan (UBT), Prof. Yahya Ahmad Zein, mengonfirmasi sistem akademik (Siakad) mahasiswa UBT sempat diretas.
Peretasan tersebut terjadi melalui akun admin yang dibobol, sehingga sejumlah data sempat bocor, namun kini sudah dapat dipastikan aman.
“Memang kemarin setelah ditelusuri tim IT, Siakad kita sempat di-hack melalui akun admin yang dibobol. Tapi alhamdulillah, berkat bantuan mahasiswa teknik yang jago IT, poin-poin yang bocor berhasil diantisipasi dengan cepat,” ungkapnya.
Ia menyebutkan, insiden terjadi satu malam sebelumnya dan diduga berasal dari luar Tarakan. Pelaku menggunakan akun palsu menyerupai akun admin asli dengan sedikit perbedaan pada bagian akhir (ending) alamat akun.
“Tim IT mendeteksi pelaku menggunakan akun dengan ending mirip admin. Dan ternyata dari luar Tarakan,” ujarnya.
Rektor memastikan saat ini sistem sudah pulih dan kembali aman. Akun-akun mahasiswa yang sempat disusupi juga sudah aman.
Peretasan ini turut diakibatkan oleh aktivitas pengguna yang mengakses situs-situs tidak aman dari perangkat pribadi, seperti situs streaming drama Korea atau situs gratisan lainnya, yang menjadi celah masuknya peretas.
“Ini bukan dari jaringan kampus, tapi dari handphone masing-masing mahasiswa. Situs gratisan itu banyak menyusupkan malware,” jelasnya.
Langkah antisipatif segera dilakukan UBT, dengan menutup port-port rawan serta memperkuat autentikasi sistem. Mahasiswa juga diminta mengganti seluruh ID dan password mereka.
“Kami langsung tingkatkan sistem keamanannya. Ini jadi pelajaran penting bahwa sistem security harus terus diperbarui,” tegasnya.
Terkait data yang terdampak, Rektor menyebut data yang tercantum di sistem Siakad seperti KTP dan Kartu Keluarga (KK) mahasiswa sempat terancam. Namun pihak kampus langsung berkoordinasi dengan Bank Pembangunan Daerah (BPD) agar tidak terjadi penyalahgunaan data untuk pencairan bantuan seperti BSU.
“Kami langsung hubungi BPD agar tidak ada pencairan yang mencurigakan,” sebutnya.
Sementara itu, BEM UBT juga melaporkan adanya mahasiswa yang menerima telepon mencurigakan terkait pencairan dana. Namun hingga kini belum ada laporan resmi soal kerugian. (*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Ramli







