benuanta.co.id, TARAKAN – Meski Surat Edaran dari Kementerian Sekretariat Negara RI telah mengimbau masyarakat untuk memasang Bendera Merah Putih sejak 1 hingga 31 Agustus 2025, geliat penjualan bendera di sejumlah titik Kota Tarakan masih tampak sepi.
Di area sekitar Ladang, pedagang bendera mengaku pembeli belum seramai yang diharapkan, seperti yang diungkapkan oleh Hamdi, penjual bendera musiman yang tiap tahun membuka lapak di kawasan tersebut.
“Biasanya memang sepi di awal-awal bulan, pembeli baru mulai ramai saat sudah dekat tanggal 17 Agustus,” jelasnya, Senin (4/8/2025).
Ia menuturkan, tren ini hampir selalu berulang setiap tahun, di mana masyarakat baru menunjukkan antusiasmenya dalam menyemarakkan Hari Kemerdekaan menjelang hari H. Hamdi telah membuka lapaknya sejak akhir Juli lalu dan menyediakan berbagai jenis serta ukuran bendera, lengkap dengan beragam pilihan harga.
“Yang kecil buat motor Rp10 ribu, ukuran 60×90 cm Rp25 ribu, ukuran 90×120 cm Rp35 ribu, yang lebih besar 100×150 cm harganya Rp50 ribu, dan ukuran jumbo 120×180 cm bisa sampai Rp75 ribu,” paparnya.
Ia menambahkan, untuk bendera berbahan kain satin biasanya sedikit lebih mahal dibanding kain parasut atau tetoron. Tak hanya bendera, Hamdi juga menyediakan umbul-umbul dengan motif merah putih dan ornamen khas kemerdekaan.
“Umbul-umbul biasa ukuran 3 meter Rp30 ribu, yang ukuran 5 meter Rp45 ribu, kalau yang model printing dan full warna bisa sampai Rp60 ribu,” katanya.
Menurut Hamdi, umbul-umbul banyak diminati sekolah, kantor, atau perumahan yang ingin mempercantik tampilan lingkungan. Meskipun penjualan masih belum stabil, Hamdi tetap optimis akan terjadi peningkatan drastis di minggu kedua Agustus.
“Tahun-tahun sebelumnya juga begitu. Nanti tanggal 10 ke atas mulai sibuk, kadang sampai enggak sempat makan siang saking ramainya,” ungkapnya.
Ia percaya puncak antusiasme masyarakat akan tiba menjelang perayaan 17 Agustus. Bagi Hamdi, berjualan bendera bukan semata-mata mengejar penghasilan musiman, melainkan juga bentuk kecintaan pada tanah air.
“Saya bangga bisa ikut memeriahkan Agustusan lewat jualan bendera. Rasanya ada kepuasan tersendiri waktu lihat bendera yang saya jual dipasang orang-orang di depan rumah atau toko mereka,” ucapnya.
Hamdi juga berharap pemerintah daerah dan aparat setempat turut aktif mengingatkan masyarakat tentang pentingnya pengibaran bendera selama bulan Agustus.
“Kalau dari pemerintahnya aktif mengimbau dan ngasih contoh, warga juga pasti ikut. Jangan hanya masyarakat yang diimbau, instansi juga harus pasang duluan,” sarannya.
Dalam urusan persaingan, Hamdi mengaku fokus pada kualitas barang dan pelayanan “Harga di pasar memang beda-beda, tapi saya tetap utamakan kualitas dan ramah ke pembeli. Banyak yang balik lagi karena merasa cocok, bahkan ada yang pesan dalam jumlah banyak,” tuturnya.
Untuk menghadapi lonjakan pembeli mendekati tanggal 17 Agustus, Hamdi mulai menambah stok dan memperluas jenis produk, termasuk bendera mini untuk dekorasi dalam ruangan serta pita merah putih.
“Minggu depan saya datangkan lagi barang dari luar kota, soalnya biasanya banyak yang pesan dadakan,” katanya.
Dengan semangat dan harapan, Hamdi terus menjaga lapaknya dari pagi hingga malam, meski panas dan hujan kerap datang silih berganti. “Ini cara saya berkontribusi. Lewat bendera, saya ikut menjaga semangat kemerdekaan tetap hidup di tengah masyarakat,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Endah Agustina







