benuanta.co.id, TARAKAN – Kesejahteraan masyarakat menjadi indikator utama dalam menilai keberhasilan pembangunan suatu wilayah. Di Kota Tarakan, sejumlah data dari Badan Pusat Statistik (BPS) terakhir, memberikan gambaran yang cukup kompleks tentang dinamika sosial dan ekonomi yang terjadi.
Kepala BPS Kota Tarakan, Umar Riyadi, SST, M.Si, menjelaskan data ini mengacu pada data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) dan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), BPS Kota Tarakan menyajikan potret menyeluruh tentang kondisi masyarakat, termasuk ketenagakerjaan, pendidikan, konsumsi, dan perumahan.
“Data ini tidak hanya mencerminkan angka, tapi mencerminkan kualitas hidup warga Tarakan,” katanya, Kamis (31/7/2025).
Salah satu kabar baik datang dari sektor ketenagakerjaan Kalimantan Utara, di mana Kota Tarakan menjadi bagian pentingnya. Per Agustus 2024, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di provinsi ini turun menjadi 3,90 persen dari 4,01 persen pada tahun sebelumnya . Penurunan ini menunjukkan adanya perbaikan serapan tenaga kerja.
“Dari 100 penduduk yang termasuk angkatan kerja, hanya sekitar 4 orang yang menganggur. Ini tren yang positif,” sebutnya
Meski begitu, dinamika pasar kerja menunjukkan ketimpangan yang perlu diwaspadai. Sektor informal masih menyerap lebih dari setengah angkatan kerja, tepatnya 50,41 persen, sementara sektor formal hanya 49,59 persen.
“Lebih banyak warga bekerja tanpa jaminan kerja atau perlindungan sosial,” paparnya.
Tantangan lain terlihat dalam distribusi lapangan pekerjaan. Tiga sektor utama penyerap tenaga kerja di Kalimantan Utara adalah Pertanian, Perdagangan, dan Administrasi Pemerintahan. Namun, sektor pertanian justru mengalami penurunan serapan tenaga kerja sebesar 1,20 persen poin dibanding tahun lalu .
“Terjadi pergeseran dari sektor tradisional ke sektor perdagangan dan jasa,” ungkapnya.
Kesejahteraan penduduk tidak hanya diukur dari aspek pekerjaan, tetapi juga dari konsumsi rumah tangga. Berdasarkan data Susenas 2024, rata-rata konsumsi kalori penduduk Kota Tarakan mencapai 2.100 kkal per kapita per hari dan konsumsi protein 60 gram, angka yang sudah memenuhi standar kecukupan gizi.
“Angka ini menunjukkan bahwa kebutuhan dasar masyarakat dari sisi gizi relatif terpenuhi,” terangnya.
Namun, di tengah angka konsumsi yang memadai, masih terdapat rumah tangga yang mengalami kesulitan akses terhadap kebutuhan dasar lainnya. Data BPS mencatat masih ada rumah tangga di Kota Tarakan yang belum memiliki akses terhadap air bersih layak maupun sanitasi memadai. Misalnya, sebagian rumah tangga masih menggunakan air sumur dan fasilitas MCK bersama.
“Akses air bersih dan sanitasi adalah indikator penting kualitas hidup, bukan sekadar infrastruktur,” ujarnya.
Sektor pendidikan juga berperan penting dalam mendorong kesejahteraan jangka panjang. Angka melek huruf di Kota Tarakan berada di atas 95 persen, dan sebagian besar anak usia sekolah sudah mengenyam pendidikan formal. Namun, dominasi tenaga kerja dengan pendidikan SD ke bawah yang mencapai 32,66 persen masih menjadi kendala struktural dalam meningkatkan produktivitas tenaga kerja.
“Kita perlu meningkatkan keterampilan dan pendidikan vokasional agar daya saing tenaga kerja lebih baik,” imbuhnya.
Lebih lanjut, ketimpangan gender masih mewarnai wajah ketenagakerjaan di Kota Tarakan. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) laki-laki sebesar 86,51 persen jauh lebih tinggi dari perempuan yang hanya 52,14 persen. Artinya, perempuan masih belum sepenuhnya terlibat dalam aktivitas ekonomi formal maupun informal.
“Disparitas ini harus menjadi perhatian serius dalam penyusunan kebijakan ketenagakerjaan,” tegasnya.
Di tengah berbagai dinamika itu, publikasi indikator dan statistik kesejahteraan rakyat tahun 2024 memberikan peta yang berguna bagi perencanaan pembangunan di Kota Tarakan. Data bukan sekadar laporan, tetapi juga instrumen kontrol dan refleksi sosial.
“Kami berharap data ini menjadi dasar evaluasi dan perbaikan program pembangunan di tahun mendatang,” tutupnya. (*)
Reporter: Eko Saputra
Editor: Endah Agustina







