Petugas PMK Tarakan Tersembur Bisa Ular Kobra 

benuanta.co.id, TARAKAN – Seorang petugas animal rescue dari Pemadam Kebakaran (PMK) Kota Tarakan mengalami insiden saat tengah bertugas mengevakuasi ular di kawasan Mako, Kampung Satu.

Petugas atas nama Jajang disemprot bisa oleh ular kobra ketika bersiap melakukan evakuasi di salah satu rumah warga yang berada di daerah Kampung Satu, Tarakan .

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran Kota Tarakan, Sofyan, membenarkan kejadian tersebut. Beruntung, korban dalam kondisi selamat dan telah mendapatkan penanganan medis.

Baca Juga :  128 Penindakan Bea Cukai Tarakan Sepanjang 2025, Nilai Barang Capai Rp93,54 Miliar

“Korban tidak tergigit, hanya terkena semburan bisa ular. Saat itu petugas menggunakan kacamata pelindung sehingga matanya tidak terkena langsung. Setelah kejadian, kami langsung bawa ke rumah sakit dan ditangani di UGD,” jelas Sofyan saat dikonfirmasi, Rabu (18/6/2025).

Ia mengatakan, insiden tersebut terjadi saat tim sedang menunggu proses evakuasi di lokasi. Menurutnya, kejadian tersebut merupakan risiko pekerjaan.

Sofyan menyebut, seluruh petugas animal rescue telah dibekali keterampilan khusus dan alat pelindung diri (APD) seperti kacamata pelindung, sarung tangan, sepatu safety, dan alat penjepit ular. Meski demikian, risiko tetap ada.

Baca Juga :  SPB Berlaku Satu Kali Pelayaran, KSOP Berikan Sanksi Tegas bagi Pelanggar!

“Namanya juga musibah. Walaupun kita sudah menggunakan APD lengkap, kejadian di lapangan tetap tidak bisa diprediksi sepenuhnya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Sofyan menegaskan bahwa seluruh layanan pemadam kebakaran, termasuk evakuasi hewan liar seperti ular, diberikan secara gratis kepada masyarakat.

“Tidak ada retribusi dalam layanan kami. Jika ada oknum yang meminta bayaran, segera laporkan. Kami akan beri sanksi tegas, termasuk pemutusan kontrak bila pelaku dari unsur non-PNS,” tegasnya.

Baca Juga :  Kemenag Dorong Madrasah jadi Benteng Pencegahan Penyimpangan Moral Siswa

Ia juga menambahkan bahwa tim animal rescue tersebar di setiap sektor, namun pihaknya terus mengembangkan sistem pembagian wilayah karena keterbatasan jumlah personel dibandingkan luas wilayah.

“Evakuasi hewan seperti ular, tawon, hingga kucing yang terjebak, kami tangani sesuai skala risiko. Kalau sangat membahayakan, langsung kami tindak. Kalau masih bisa dikendalikan, biasanya dilakukan survei dulu,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sunny Celine

Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *