benuanta.co.id, TARAKAN – Tren #kaburajadulu ramai mencuat di media sosial. Tagar kabur aja dulu diartikan sebagai bentuk kehendak masyarakat untuk meninggalkan Indonesia lalu bekerja atau belajar di luar negeri saja. Hal ini juga ramai diperbincangkan sebagai bentuk kritik masyarakat terhadap pemerintah.
Salah satu Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja di negara Mongolia, Alwosius mengatakan, sangat wajar jika belakangan ini banyak masyarakat yang memilih bekerja di luar negeri. Mengingat kurangnya kesejahteraan yang didapatkan di negara sendiri.
Ia menuturkan pemerintah seharusnya belajar memperbaiki untuk kesejahteraan masyarakatnya.
“Indonesia ini kaya dengan hasil bumi tapi rakyat tidak sejahtera di buatnya. Gaji rendah bahan pangan naik. Indonesia ini apa pun butuh biaya, ” ujarnya, Senin (24/2/2025).
Alwosius mengakui dirinya mengambil keputusan bekerja di luar negeri untuk mencari pengalaman dan untuk mencari gaji yang lebih tinggi. Saat ini, ia bekerja sebagai operator alat berat di salah satu perusahaan batubara yang ada di Asia Timur.
Jika dibandingkan gaji di Indonesia dan di luar negeri menurutnya jauh berbeda. Menurutnya, gaji di Indonesia saat ini masih sama seperti tahun 2016. Sedangkan gaji yang ia dapatkan di Mongolia berkisar Rp 20 juta per bulan, tergantung alat berat apa yang dioperasikan.
“Jabatan naik, basic naik, hasil akhir sama, seperti masih jadi operator,” ungkapnya.
Menurutnya, kondisi di Indonesia sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan karena syaratnya yang sangat sulit. Sedangkan di luar negeri pekerjaan mudah didapat karena syaratnya yang mudah.
“Syaratnya yang penting berpengalaman, fisik kuat, sehat langsung di terima nggak pandang usia. Indonesia batas umur operator maksimal 45, di luar negeri usia 60 pun masih kerja. Dibandingkan di Indonesia, ya lebih sejahtera di luar negeri pastinya. Semua ditanggung, kerja nggak buru-buru juga,” jelasnya.
Sementara, Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Kalimantan Utara (Kaltara), Kombes Pol F. Jaya Ginting menyampaikan pandangannya mengenai fenomena tagar kabur aja dulu yang belakangan ini menjadi perbincangan di kalangan Generasi Z (Gen Z).
Menurutnya, tagar tersebut dapat dilihat secara positif, karena mencerminkan pemikiran lain yang lebih terbuka dan menunjukkan keberanian serta pengetahuan generasi muda dalam mengambil keputusan.
“Generasi Z adalah anak-anak pintar dengan keberanian, pengetahuan, serta pengalaman yang mereka miliki. Mereka sudah berada di atas zaman mereka dan memiliki pemahaman yang berbeda dalam melihat peluang, salah satunya bekerja di luar negeri,” kata Ginting.
Meski begitu, ia menegaskan, bekerja di luar negeri harus mengikuti prosedur dan aturan yang berlaku.
“Jika ditertibkan dan disesuaikan dengan undang-undang, syarat menjadi Pekerja Migran Indonesia harus dilakukan secara prosedural,” jelasnya.
Menurutnya, tren ini bisa dipandang sebagai alternatif positif. Larena bekerja di luar negeri merupakan pilihan yang sah jika dilakukan dengan cara yang legal. Ia juga mengingatkan, bahasa yang digunakan dalam tagar tersebut, meskipun terkesan informal atau bahkan provokatif, sejatinya sah-sah saja untuk ditafsirkan lebih lanjut, yang terpenting adalah cara dan prosedur yang sesuai dengan aturan yang ada. (*)
Reporter: Sunny Celine/Darmawan
Editor: Endah Agustina






