BMKG Tarakan Sebut Kabut di Kaltara Disebabkan Banyaknya Titik Panas

benuanta.co.id, TARAKAN – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kota Tarakan mengungkapkan situasi dan kondisi kabut di Kalimantan Utara (Kaltara) disebabkan oleh hotspot atau titik panas.

Hotspot yang mengakibatkan kabut bukan hanya berasal dari Kaltara namun wilayah lain Kalimantan seperti Kalimantan Timur (Kaltim), Kalimantan Selatan (Kalsel), Kalimantan Barat (Kalbar), Kalimantan Tengah (Kalteng).

Kepala BMKG Tarakan, M. Sulam Khilmi menuturkan kabut dari wilayah lain tersebut dibawa oleh siklon yang berasal dari Vietnam. Ia menjelaskan saat ini belahan bumi utara khususnya Filipina dan Vietnam terdapat pusat tekanan rendah.

“Seperti yang kita tahu tekanan rendah itu akan menarik angin jadi uap air yang ada di Indonesia khususnya Kaltara secara kencang kesana,” ujarnya, Rabu (18/9/2024).

Baca Juga :  Pria Tanpa Identitas Ditemukan Meninggal di Depan Ruko Slamet Riyadi

Ia menerangkan angin adalah udara yang bergerak dari tempat bertekanan tinggi ke rendah. Semakin rendah tekana daerah tersebut, maka akan semakin kuat menarik angin dari sekitarnya. Oleh itu, wilayah Ketika di Vietnam agak jauh dari Kaltara memiliki ada tekanan rendah dalam bentuk siklon akhirnya menarik masa uap air sehingga dalam beberapa hari ini pertumbuhan awan hujan kecil sehingga mengakibatkan kurangnya intensitas hujan.

Hak tersebutlah yang mengakibatkan munculnya hotspot di Kaltara. Di wilayah Kaltara sendiri hotspot terbanyak ada di Tanjung Palas, Kabupaten Bulungan bahkan di beberapa titik level konfidensinya mencapai 80 sampai 100 persen.

Baca Juga :  Tradisi Wajib Barongsai Meriahkan Imlek di Kelenteng Toa Pek Kong Tarakan

“Level konfidensi ada tiga ada low dibawah 20 berwarna biru, level diatas 20 sampai 80 kategori medium berwarna kuning, diatas 80 sampai 100 mencapai kategori high berwarna merah. Jika sudah 100 persen bisa dipastikan sudah ada kebakaran. Hotspot itu bukan merupakan kejadian kebakaran tetapi potensi terjadinya kebakaran,” jelasnya.

“Iya (hotspot menimbulkan kabut) hasil dari pantauan citra satelit angin berhembus dari arah ekuator ke Utara. Dalam beberapa hari terakhir hotspot bukan hanya di Kaltara tetapi ada juga di di Kaltim, Kalteng, Kalsel sehingga ini gabungan dampaknya,” tambahnya.

Baca Juga :  Ombudsman Angkat Bicara Wacana Pusat Pemerintahan Tarakan Pindah ke Wilayah Utara

Dikatakan Khilmi, siklon memiliki masa hidupnya yang tidak cukup lama, mulai dari 4 hari sampai 7 hari. Jika siklon sudah redah maka akan berangsur-angsur normal kembali. Disinggung mengenai jarak pandang adanya kabut untuk penerbangan, ia menegaskan untuk Tarakan masih tergolong baik.

“Untuk di Tarakan masih dalam ambang standar jadi masih bisa aktifitas penerbangan. Tadi kita cek jarak pandang masih 4 kilometer masih bagus,” pungkasnya. (*)

Reporter: Sunny Celine

Editor: Ramli 

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *