benuanta.co.id, TARAKAN – Bea Cukai Tarakan telah merealisasikan target penerimaan bea masuk sebesar Rp 8 miliar atau 58 persen dari target penerimaan pada semester pertama. Sementara untuk bea keluar baru terealisasi Rp 121 juta atau sekitar 2,92 persen.
Kasi Penyuluhan dan Layanan Informasi Bea Cukai Tarakan, Andy Irwanto mengatakan, untuk bea keluar masih harus lebih ditingkatkan. Namun, jika melihat keseluruhan target penerimaan, Bea Cukai Tarakan telah merealisasikan sebesar 46 persen dari total target tahun ini yakni Rp 17 miliar.
“46 persen ini keseluruhan, dari denda administrasi, bea keluar, bea masuk juga itu mencapai Rp 8 miliaran,” katanya, Jumat (19/7/2024).
Andy melanjutkan, pihaknya optimis dalam mencapai target yang sudah ditentukan oleh Kementrian Keuangan. Pihaknya akan menggenjot berbagai sektor potensial untuk mendongkrak pencapaian target pada semester kedua nanti.
“Kita genjot terus di semester dua ini. Optimis kita 100 persen bisa kita capai,” lanjutnya.
Pada semester kedua, pihaknya akan memaksimalkan pada sektor bea masuk untuk impor beberapa komoditas, misalnya batu kerikil atau produk olahan karet. Menurutnya, beberapa komoditas tersebut menjadi penyumbang terbesar pada bea masuk.
Upaya yang dilakukan ialah seperti mengunjungi peminat untuk beberapa komoditas yang diimpor.
“Karena industri ini jadi dapat fasilitas pembebasan bea masuk, 0 persen untuk bea masuknya. Kita coba optimalkan untuk produk yang biasa impor,” tutur Andy.
Disinggung soal bea keluar yang masih kecil, Andy mengungkapkan lantaran komoditas unggulan seperti minyak kelapa sawit sudah tidak ada. Adapun yang ada saat ini hanya kayu olahan. Sementara untuk komoditas batu bara masih tetap dilakukan ekspor namun tak dikenakan bea keluar.
“Jadi sumber bea keluar dari Bea Cukai Tarakan cuma kayu olahan. Kalau batu bara tetap ekspor. Kalau Tarakan ini ya komoditas unggulan hanya kayu olahan,” pungkasnya. (*)
Reporter: Endah Agustina
Editor: Yogi Wibawa







