Hakim Vonis Perkara Pencabulan Anak 2 Tahun Penjara

benuanta.co.id, TARAKAN – Majelis hakim Pengadilan Negeri Tarakan memvonis terdakwa di bawah umur, anak FK (16) dan anak DV (16) perkara pencabulan dengan pidana penjara 2 tahun. Selain itu, kedua anak juga dipidana pelatihan kerja pengganti denda selama 3 bulan di Griya Abhipraya Bapas Tarakan.

Putusan ini dibacakan majelis pada Jumat, 28 Juni 2024.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam perkara ini, Agnes Rosana mengungkapkan, sebelumnya, mendakwa anak dengan dakwaan alternatif yakni Pasal 81 Ayat 2 atau Pasal 82 Ayat 1 Undang-undang Perlindungan Anak.

Sebelumnya, jaksa juga menuntut kedua anak dengan pidana 2 tahun 6 bulan penjara dan pidana pengganti denda berupa pelatihan kerja di Griya Abhipraya Bapas Tarakan selama 6 bulan penjara.

“Vonis pidana penjaranya kita tuntut 2 tahun 6 bulan, tapi divonis 2 tahun dengan pelatihan kerja. Kami tuntut 6 bulan, tapi diputus 3 bulan,” ungkapnya, Jumat (28/6/2024).

Dijelaskan JPU, pertimbangan hukuman yang dijatuhkan merujuk pada sistem peradilan pidana anak. Dalam sistem peradilan pidana anak, mempertimbangkan aspek masa depan anak tersebut. Terlebih, negara melindungi anak baik sebagai pelaku dan korban.

Baca Juga :  Polisi Kejar Terduga Pelaku Pemerasan Anggota Dewan 

“Dua-duanya sama haknya, baik pelaku maupun korban. Apalagi selama persidangan orang tua nya juga mendampingi dan berjanji untuk mendidik dan membina anak ini supaya bisa meneruskan masa depan dan jadi lebih baik,” jelasnya.

Berdasarkan fakta persidangan, anak DV dan anak FK melakukan hubungan badan dengan anak korban yang baru berusia 13 tahun pada 17 Mei 2024. Kedua anak juga memiliki niat untuk melakukan hubungan badan sehingga terbesit untuk melakukan tindakan asusila terhadap anak korban.

Saat itu, anak DV dan anak FK menjemput anak korban dan membawanya ke rumah rekannya yang dijadikan anak saksi berinisial JU.

“Pada saat kejadian yang pertama kali melakukan itu adalah anak FK. Saat itu, anak FK langsung mengajak masuk anak korban ke kamar milik anak saksi JU. Karena mereka lama di dalam kamar berdua, masuklah anak DV dan melihat kejadian tersebut (berhubungan badan). Lalu bergilir lah,” bebernya.

Baca Juga :  Terdakwa Sabu 5 Kg Dituntut Jaksa 17 Tahun Penjara

Setelah selesai, kendaraan yang digunakan untuk mengantar anak korban pulang miliknya terdakwa RM (24), maka RM turut melakukan hubungan badan dengan anak korban. RM saat itu mengancam korban jika tak mau berhubungan badan maka tidak diantar pulang.

“Jadi anak DV dan anak FK ini bilang ke anak korban kalau mau diantar pulang harus melakukan hubungan badan dengan RM. Karena terpaksa, anak korban akhirnya mau berhubungan badan,” lanjutnya.

Kejadian bejat ini juga berlangsung pada hari kedua. Namun, saat hari kedua hanya anak FK yang melakukannya. Korban juga mengaku, bahwa ia terpaksa lantaran terdapat ancaman bahwa terdapat video berhubungan badan yang akan disebar.

Baca Juga :  Jaga Kebersihan Udara, Pemkot Tarakan Ajak Masyarakat Ramaikan CFD

“Anak FK saja yang melakukan dihari kedua, anak DV tidak sempat karena keburu datang orang tuanya anak saksi JU,” sebut Agnes.

Dalam perkara ini, sebelumnya jaksa telah menghadirkan beberapa saksi yang berasal dari saksi korban, orang tua, pemilik rumah, dan beberapa rekan dari anak pelaku. Agnes menyebut juga terdapat pelaku dewasa, RM yang saat ini masih tahap 1.

“Pelaku dewasa kita jadikan saksi juga, karena kan dipisah berkasnya. Kalau pelaku di bawah umur harus segera disidangkan karena penahanan sangat cepat kalau anak-anak,” pungkasnya. (*)

Reporter: Endah Agustina

Editor: Yogi Wibawa

Calon Gubernur Kalimantan Utara 2024-2029 Pilihanmu
2635 votes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *