Cegah dan Tangani Stunting Melalui Kader Posyandu

benuanta.co.id, TARAKAN – Perwakilan kader Posyandu se Kota Tarakan menghadiri kegiatan Evaluasi Intervensi Spesifik Stunting yang digelar Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan, Rabu (13/6).

Kegiatan ini membahas tentang perkembangan ibu hamil agar tidak terkena stunting. Diharapkan kader Posyandu bisa mengedukasi masyarakat untuk pencegahan stunting sejak dini. Dinkes Tarakan menghadirkan dua narasumber dari dokter spesialis anak untuk mengedukasi para kader Posyandu se Tarakan.

Diketahui, dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, turut dipengaruhi oleh faktor genetik yang berdampak terhadap tinggi badan dan pertumbuhan anak. Kemudian faktor lingkungan mempengaruhi stimulasi, nutrisi, dan faktor sosial.

Dokter spesialis Anak, dr. Tasmina, Sp.A menerangkan, pentingnya peran ibu hamil agar selalu mengontrol perkembangan saraf dan pertumbuhan anak.

Baca Juga :  Perolehan Suara di PSU Meningkat, Gerindra Kokoh Pertahankan Posisi Ketua 

“Dan dapat juga dibantu melalui menjaga pola makan diimbangi dengan dengan zat besi maupun vitamin,” jelas Tasmina saat menjadi narasumber bersama kader Posyandu se Tarakan di kantor Dinkes Tarakan.

Dikesempatan yang sama, dr. Santi Faradilla, Sp.A menjelaskan perkembangan otak dengan proses stimulasi, rutin sejak dini dapat dilakukan oleh peran orang tua dan lingkungan sekitar.

“Agar dapat berkembang sel otak melalui proses synaptogenesis yaitu proses komunikasi antara sel otak, neuroplastisitas yakni kemampuan otak merespons stimulus dan eksogen,” ucapnya.

Baca Juga :  Dinkes Tarakan akan Lakukan Imunisasi Polio di Posyandu, Puskesmas dan Sekolah

Salah satu Ketua Posyandu di Tarakan yakni Posyandu Teratai di Kelurahan Karang Anyar, Tuti mengakui pernah ada anak stunting di wilayahnya. “Kemarin di Posyandu Teratai ada yang stunting dan Alhamdulillan dua bulan ini sudah tidak ada,” jelasnya.

“Harapannya kami sebagai kader, mengharapkan semua anak-anak Balita kita selalu sehat, tidak ada lagi yang stunting ataupun yang namanya gizi buruk,” harapnya.

Sementara itu, Dokter Spesialis Anak, dr. Santi Faradilla, Sp.A mengungkapkan, dampak kekurangan gizi adanya dari pemberian makanan yang tidak odekuat.

“Asupan makanan yang sedikit, kebutuhan nutrisi yang meningkat, pengetahuan kurang akan berdampak kurang gizi atau stunting atau disebut juga Delayed Development,” jelas Santi.

Baca Juga :  Para Tenant THM Plaza Kecewa atas Keputusan Pemkot Tarakan

Yang perlu dilakukan oleh pemerintah daerah memastikan seluruh kader Posyandu memiliki keterampilan dalam pertimbangan dan pengukuran antropometri terstandar serta penyuluhan untuk ibu hamil dan Balita.

“Adapun strategi pencegahan yaitu praktik pemberian makan pada bayi, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan, selalu mendeteksi bayi risiko gagal tumbuh,” pungkasnya.(*)

Reporter: Rewinda Karinata

Editor: Ramli

Calon Gubernur Kalimantan Utara 2024-2029 Pilihanmu
2526 votes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *