Proyeksi Kebutuhan Beras di Bulungan Tahun 2024 Masih Minus

benuanta.co.id, TANJUNG SELOR – Kenaikan harga beras yang signifikan di beberapa daerah di Indonesia, termasuk Kabupaten Bulungan, menimbulkan berbagai respon dari berbagai kalangan masyarakat, baik dari penjual maupun pembeli.

Kabupaten Bulungan sendiri merupakan kawasan dengan lahan pertanian dan perkebunan yang sangat luas, dan ini menjadi potensi dan peluang bagi pemerintah daerah dalam upaya menciptakan ketahanan pangan.

Namun pada kenyataannya, jumlah produksi beras di Kabupaten Bulungan belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, sehingga Kabupaten Bulungan harus menutup kekurangan tersebut dengan impor beras dari luar daerah seperti pulau Jawa dan Sulawesi.

Saat dikonfirmasi, Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura, Dinas Pertanian Bulungan, Andik Wahyunarto, mengungkapkan tahun 2023, Kabupaten Bulungan mengalami penurunan luas panen padi, sehingga dari sisi produksi Gabah kering Giling (GKG) juga mengalami penurunan hingga 11 persen.

Baca Juga :  Pelabuhan Kelubir Disiapkan, Bulungan Ingin Percepat Arus Logistik ke Tarakan

Kemudian, dari sisi produksi juga alami penurunan sebesar 674,49 hektar (Ha) pada tahun 2023, atau turun sebesar (20,19) persen dari luas panen padi sebelumnya di tahun 2022, sebesar 3.341,49 menjadi 2.667 hektare.

Sehingga, dapat disimpulkan hal ini terjadi adanya fenomena lain, yaitu peningkatan produktivitas panen di setiap hektar. Namun, karena luas panen padi menurun, penurunan atas GKG juga drastis.

Baca Juga :  Ini Besaran Zakat Fitrah dan Fidyah Resmi dari Kemenag Bulungan

“Tentu, ini menjadi perhatian kita bersama dengan pemerintah daerah,” katanya Jumat, (23/2/2024)

Yang mana, telah terjadi beberapa alih fungsi dari lahan pertanian ke lahan perkebunan kelapa sawit. Proyeksi kebutuhan beras di Bulungan pada tahun 2024 masih minus sebesar 8.998 ton dari total kebutuhan pertahun 15.623 ton.

Oleh karena itu, Pemkab Bulungan saat ini tengah mendorong masyarakat, khususnya para petani untuk kembali memfungsikan lahan pertanian sebagai lumbung pangan.

Pemerintah daerah, sebelumnya telah menerbitkan regulasi terkait Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B), yang saat ini masih digodok.

Diharapkan, regulasi tersebut nantinya menjadi acuan dalam pengembangan sekitor pertanian di Bulungan. Apalagi, permasalahan beras ini merupakan bom waktu yang mana dampaknya telah dapat dirasakan.

Baca Juga :  Cuaca Kaltara di Bulan Ramadan Didominasi Hujan

Pemerintah daerah, juga memiliki Satuan Tugas (Satgas) dalam pengawasan ketahanan pangan. Pengembangan sektor pertanian di Bulungan terus dikembangkan sebagai liding sektor. Seperti di Tanjung Palas Utara, Mina Pangan di Tanjung Palas Tengah, pengembangan kawasan koorporasi di Sajau Hilir dan lumbung padi di Tanjung Buka.

Dengan demikian, diharapkan dapat menopang kebutuhan akan beras di daerah, sehingga tidak bergantung sepenuhnya dari luar daerah.(*)

Reporter: Ike Julianti

Editor: Yogi Wibawa

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *