benuanta.co.id, BULUNGAN – Terhitung hari ini usia Kabupaten Bulungan telah menginjak diangka 63 tahun dan Kota Tanjung Selor diangka 233 tahun. Dimana peringatan hari jadi keduanya jatuh pada 12 Oktober.
Terlihat pada upacara puncak peringatan hari jadi, turut hadir Gubernur Kaltara Zainal Arifin Paliwang dan jajaran Forkopimda Kaltara serta mantan Bupati Bulungan 2005-2015 Budiman Arifin, lalu Bupati Bulungan Syarwani dan jajarannya. Upacara ini dilaksanakan di Lapangan Agathis Tanjung Selor.
Syarwani selaku inspektur upacara menceritakan secara singkat sejarah Kabupaten Bulungan dimulai dari legenda Lemlai Suri, lalu ada kepemimpinan Datu Mencang dengan gelar Ksatria Wira di tahun 1555 yang memimpin suku Bulungan. Kemudian berlanjut di era Wira Amir tahun 1731 yang menjadi Sultan pertama Kesultanan Bulungan dengan gelar Sultan Amiril Mukmini.
Kisahnya, upacara pengibaran bendera Merah Putih di halaman Istana Kesultanan Bulungan Tanjung Palas pada 17 Agustus 1949 yang dipimpin langsung Sultan Muhammad Maulana Djalaluddin yang merupakan Sultan Bulungan terakhir sekaligus kepala daerah Bulungan yang pertama,” ucap Syarwani, Kamis 12 Oktober 2023.
Kata dia, berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kalimantan Timur Nomor 1886/ORB/92/1950 menyatakan bahwa kedudukan Kesultanan Bulungan ditetapkan sebagai wilayah Swapraja. Kemudian di tahun 1955 wilayah Kesultanan Bulungan ditetapkan sebagai Daerah Istimewa (DI) .
“Pada tahun 1959 ditetapkan lagi menjadi Daerah Tingkat II Kabupaten Bulungan berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959 dengan Bupati kepala daerah pertama yaitu Andi Tjatjo Datuk Wihardja pada tahun 1960,” sebutnya.
Syarwani mengatakan sebagai wujud penghormatan serta kecintaan semua warga Bulungan akan warisan para leluhur, dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Tanjung Selor dan Kabupaten Bulungan tahun ini, diselenggarakan berbagai kegiatan yang ditujukan untuk menggali dan mengenalkan kembali sejarah dan kebudayaan di Kabupaten Bulungan.
“Kegiatan itu antara lain lomba menyumpit, ziarah ke makam para pemimpin Bulungan, perlombaan olahraga tradisional dan prestasi, lomba karnaval baju adat dan aksesoris etnik daerah, pelepasan Biduk Bebandung, lomba tari pesisir dan pedalaman hingga pawai budaya,” bebernya.
Dirinya semua warga tidak akan pernah melupakan sejarah serta bisa menjaga dan melestarikan warisan seni dan budaya yang ada di Bulungan. Selanjutnya dengan motto Bulungan yaitu “Merudung Pebatun de Benuanta”, saling bahu membahu antar seluruh lapisan masyarakat dalam membawa Kabupaten Bulungan ke arah yang lebih baik.
“Saya mengajak semua pihak untuk senantiasa bergandengan tangah secara bersama-sama, dan bekerja keras, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing,” pungkasnya.(*)
Reporter: Heri Muliadi
Editor: Ramli







