benuanta.co.id, TANJUNG SELOR – Fenomena kabut asap beberapa hari belakangan ini menyelimuti Kabupaten Berau hingga empat kabupaten dan kota di Kalimantan Utara (Kaltara). Untuk Kaltara dapat terlihat sejak kemarin kabut asap terpantau di Bulungan, Nunukan dan Tarakan.
Forecaster Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Kabupaten Berau Suryadi mengatakan, kabut asap berasal dari Kalimantan Selatan (Kalsel) dan Kalimantan Tengah (Kalteng) kemudian masuk ke wilayah Kalimantan Timur.
“Kemungkinan bisa terjadi pula kebakaran hutan berasal dari Berau. Kita juga menunggu rilis dari BPBD,” ungkapnya, Selasa (3/10/2023).
Lebih lanjut, pihaknya menjelaskan kabut asap diamati secara konsisten dalam 3 hari terakhir.
“Mulai tanggal 1 Oktober 2023 Asap dalam istilah meteorologi disebut sebagai smoke. Digolongkan ke dalam kelompok lithometeor, artinya partikel pembentuk asap merupakan partikel padat dan kering yang tidak mengandung air,” ucapnya.
Ia juga menilai asap bersumber dari proses pembakaran baik dari kendaraan bermotor, industri hingga kebakaran hutan dan lahan.
“Stasiun meteorologi Kalimarau Berau juga sudah bertugas mengamati, mencatat, menganalisa dan melaporkan kondisi tersebut secara real-time untuk keperluan take-off dan landing serta menyebarkan informasi ke publik,” bebernya.
Dirinya pun menegaskan sudah menyediakan informasi hotspot, FDRS (Fire danger Rating Sytem) berupa peta spasial.
“Dapat kami sampaikan informasi hotspot di wilayah Berau tanggal 1 Oktober terdeteksi 9 hotpsot, tanggal 2 Oktober 8 hotpsot. Jarak pandang per 3 Oktober hingga pukul 13.00 WITA teramati antara 2.8 – 4 KM,” tuturnya.
Selain itu, untuk terkait penetapan status kedaruratan BMKG Berau menegaskan bukan bagian dari kewenangannya.
“Kami imbau bagi seluruh masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, menjaga kesehatan dengan konsumsi buah-buahan atau vitamin,” tukasnya.
Untuk kabut asap di wilayah Kaltara, Kepala Bidang Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Dinas Kehutanan Kaltara Maryanto menjelaskan, asap tersebut berasal dari sejumlah provinsi yang ada di Kalimantan di antaranya Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.
Hal tersebut diakibatkan adanya pergerakan angin dari arah tenggara menuju ke utara sehingga Kaltara terkepung oleh asap kiriman.
Maryanto menerangkan, berdasarkan pantauan dari Kementerian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan (KLHK) Hot Spot (titik panas), diketahui terdapat sejumlah titik hotspot berwarna merah yang berasal dari Kalimantan Tengah (Kalteng).
“Dari keempat provinsi di Kalimantan, hanya Kaltara yang tidak memiliki titik hotspot,” terangnya saat di konfirmasi melalui panggilan seluler.
Maryanto mengatakan, jika rekan-rekannya yang berada sejumlah provinsi di Kalimantan turut berjibaku memadamkan api. Bahkan, dua hari lalu Wakil Menteri KLHK Alue Dohong turun langsung memimpin penanganan kebakaran lahan gambut (Karhutla) yang terjadi di Kalimantan Selatan (Kalsel) pada minggu (01/01/2023).
“Kalteng dan Kalsel ada banyak lahan gambut,” ucapnya saat berada di Ibu Kota Provinsi Kaltara, Tanjung Selor.
Diketahui, lahan gambut sangat sulit untuk dipadamkan bahkan bisa berlangsung berhari-hari. Lantaran api yang berada di bawah permukaan tanah akan sulit dideteksi pergerakannya. Artinya saat dipantau dari permukaan api tersebut tidak tampak namun api tersebut merembet ke bagian bawah.
“Untuk kebakaran lahan gambut diduga kesengajaan manusia, biasanya warga ingin mengeringkan lahan,” tuturnya.
Kepada masyarakat Kaltara, Maryanto mengungkapkan jika Dishut Kaltara sudah mendistribusikan ke sejumlah walikota dan bupati untuk menghimbau kepada warga agar tidak melakukan kegiatan pembakaran. Di samping itu, ada Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) melakukan patroli, penyuluhan dan imbauan kepada masyarakat.
Maryanto menuturkan, sejauh ini masyarakat lokal Kaltara sudah mengetahui kapan waktunya membakar dan kapan melakukan penanaman. Ia menilai petani maupun peladang di Kaltara masih tertib dalam membuka lahan.
“Jika ingin membuka lahan, ada baiknya warga melakukan komunikasi kepada aparat desa setempat agar masyarakat peduli api yang akan mendamping saat di lapangan. Saya harap agar membuka lahan tidak lebih dari 2 hektare,” bebernya.
Maryanto membeberkan, jika dibandingkan dengan kondisi kabut pagi tadi, terdapat penurunan intensitas asap. Ia berharap agar kabut asap secepatnya hilang dari permukaan udara Kaltara. Kondisi kabut asap dapat segera teratasi jika sumber api dan hembusan angin tidak mengarah ke utara.
“Jika arah angin ke arah barat, bisa dipastikan kabut asap di Kaltara akan hilang,” ujarnya.
Berdasarkan laporan KPH Kabupaten Tana Tidung (KTT) diketahui sebagian besar masyarakat mulai membakar lahan. Atas informasi tersebut pihaknya menginstruksikan agar dilakukan pendampingan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.
“Sekalipun mau membakar lahan, dapat dipastikan hal tersebut masih dapat dikendalikan, mudah-mudahan besok kabut asap dapat berkurang, soalnya arah angin masih ke arah utara ini,” tutupnya.
Terpisah, Kepala BPBD Kota Tarakan, Yonsep memberikan imbauan jika dalam kurun waktu tiga hari ke depannya kabut asap masih menyelimuti Tarakan, ia mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah agar terhindar dari penyakit yang bisa disebabkan oleh kabut asap.
“Kalaupun keluar sebaiknya menggunakan masker dan kurangi kegiatan anak kecil di luar kalau kondisi kedepannya masih seperti ini,” imbuhnya.
“Tetap berhati-hati karena ini bisa mengakibatkan gangguan pernapasan, saat sekarang pun gunakanlah masker untuk menghindari,” tegasnya.
Hingga saat ini pun pihaknya belum mendapatkan informasi dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terkait kabut asap ini. “Mereka (DLH) kan perlu analisis nanti segera saya hubungi,” pungkasnya.(*)
Reporter: Georgie/Okta Balang/Sunny Celine
Editor: Ramli







