Mulai Mengesot Sampai Berlari, Perjuangan Anto Gondrong Perkenalkan Batik Kaltara

benuanta.co.id, TARAKAN – Bertepatan dengan Hari Batik Nasional, benuanta.co.id mencoba mengulas kisah seorang pembatik yang terkenal dan tidak asing lagi di Kota Tarakan. Ia lebih dikenal dengan nama Anto Gondrong.

Dunia membatik bukan hal baru dalam perjalanan karier Anto. Batik Pakis Asia miliknya pun sudah go nasional hingga ke mancanegara.

Bukan tanpa hambatan, penuh perjuangan bagi Anto untuk bisa sampai ke titiknya saat ini.

memiliki nama lengkap Adi Setyo Purwanto atau yang akrab disapa Anto Gondrong. Ia memulai membatik pada 2011 silam.

Bermula dari pelatihan batik yang diadakan pada tahun 2010 di Jogjakarta. Kegiatan tersebut diikuti oleh 20 orang dari Kota Tarakan yang sebelumnya telah terseleksi. Di tahun yang sama setelah melakukan pelatihan Anto dan teman-teman lainnya melakukan kegiatan membatik di rumahnya.

Seiring berjalannya waktu pada tahun 2011, sudah mahir dalam kegiatan batik membatik dan memiliki modal usaha, kelompok membatik ini memutuskan untuk membuka usaha batik masing-masing dan saat ini tersebar di beberapa titik di Kota Tarakan.

Baca Juga :  Jaga Ramadan Tetap Kondusif, Pemkot Tarakan Perketat Patroli Pengawasan

“2011 itu pure saya produksi itu, ya meskipun awalnya sedikit bertele-tele bagaimana pemasarannya, bagaimana sistem produksinya, bagaimana sistem pengajian orang-orang yang belum jelas penghasilan batik ini,” ujar Anto kepada benuanta.co.id.

Anto harus melakukan pekerjaan di luar membatik untuk menutupi kebutuhan finansialnya, karena ia harus menggaji para karyawannya. Pucuk dicinta ulam pun tiba, rumah produksi batik yang ia tekuni mulai berkembang dan mulai dikenal khalayak umum hingga saat ini ia bisa mengadakan pelatihan batik yang diikuti oleh banyak orang tak hanya di Tarakan saja namun sudah menjangkau daerah lain.

“Karena dianggapnya saya adalah pelopor batik di Kaltim, waktu itu belum Kaltara. Sampai saat ini mulai dikenal dari ngesot, merangkak, berjalan sampai sekarang bisa berlari,” ungkapnya.

Sebenarnya ia hanya ingin melestarikan budaya membatik dan juga melestarikan budaya motif, ukiran dan seni anyaman yang ada di Kaltara. Dalam rangka memperkenalkan kelestarian budaya Kaltara ia memiliki pemikiran untuk membudayakannya melalui batik.

Baca Juga :  Pria Tanpa Identitas Ditemukan Meninggal di Depan Ruko Slamet Riyadi

“Kalau memang orang ingin tahu tentang motif-motif yang ada di Kaltara kan mereka harus datang ke Kaltra, Tarakan baru tahu. Tetapi kalau sudah jadi batik dimana pun saya pameran, saya mengadakan kunjungan ke tiap-tiap daerah bahkan tetangga di Tawau, Kinabalu, ke Brunei mereka akhirnya kenal ini motif yang ada di Tarakan dan Kaltara,” jelasnya.

Awalnya hanya ada 18 motif batik yang ia patenkan di Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) dan sekarang terdapat sekitar 35 motif yang sudah ia buat. Melalui rasa keingintahuan yang tinggi untuk menghasilkan motif indah khas Kaltara Anto rela mempelajari motif ke para sesepuh dan budayawan bahkan hingga ke desa-desa pelosok yang ada di Kaltara.

“Hanya ingin memperdalam motif-motif yang ada di Kaltara ini, gitu” tegasnya.

Di Tarakan sendiri motif yang terkenal yaitu motif-motif Tidung, namun ia melakukan gebrakan dengan memperkenalkan motif-motif Dayak dan Bulungan.

“Dayak sendiri kan banyak ada Kenya, Lundayeh, Brusu, Punan, Agabag, Taghol itu semua saya pelajari,” bebernya.

Baca Juga :  Tradisi Wajib Barongsai Meriahkan Imlek di Kelenteng Toa Pek Kong Tarakan

Bahan-bahan pembuatan batik sendiri masih didatangkan dari Pekalongan, Jogja dan Surabaya dan untuk pewarnaan ia menggunakan bahan-bahan alami yang ada di Tarakan tetapi warna sintetis pun masih didatangkan dari daerah Jawa.

Menurutnya, perkembangan batik saat ini sangat maju untuk kota Tarakan karena bisa memenangkan berbagi ajang batik tingkat Nasional dan bisa bersaing dengan daerah penghasil batik lainnya.

Anto juga mengapresiasi pemerintah dalam mendukung penggunaan batik di Kaltara dengan adanya peraturan yang mengharuskan penggunaan batik sebagai seragam kerja.

“Kalau untuk bersaing saya rasa bisa-bisa saja, hanya kalau untuk bersaing harga kayaknya agak sulit karena bahan masih kami datangkan. Tetapi kalau segi dari kualitas dan mutu kami masih bisa bersaing,” terangnya.

“Saya meminta dukungan dari stakeholder yang ada di Tarakan maupun Kaltara dengan membeli dan memakai produk kita berarti membantu UKM untuk bisa maju dan berkembang,” pungkasnya.(*)

Reporter: Sunny Celine

Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *