benuanta.co.id, TARAKAN – Fokus dan tekun itulah yang terlihat ketika melihat salah satu pengrajin batik penyandang disabilitas di rumah Kelompok Usaha Bersama Disabilitas Batik (KUBEDISTIK) Kota Tarakan.
Keterbatasan fisik, mental, intelektual atau sensorik bukanlah penghalang bagi seseorang untuk memacu bakat yang ada dalam dirinya. Kegiatan batik membatik yang sering dijumpai dilakukan oleh orang-orang yang sempurna secara fisik dan mental, namun lain halnya dengan Arlina dan Hadi.
Didampingi oleh Sonny Lolong para penyandang disabilitas dapat menjadi pengrajin batik yang luar biasa. Dalam prosesnya pun tidak mudah untuk di lalui Sonny dalam memperkenalkan batik khas Kaltara, khususnya yang ada di Tarakan dengan menggandeng orang-orang luar biasa ini.
Usia penyandang disabilitas yang saat ini didampingi oleh Sonny berada pada kisaran 20 hingga 30 tahun dan dari sisi emosional masih terbilang tidak stabil atau labil. Banyaknya pengaruh dari eksternal membuat beberapa anak yang tidak cocok dan berhenti secara individu.
“Saya juga tidak ada MoU sebelum hitam di atas putih kamu wajib sampai sini, itu nggak,” ungkap Sonny belum lama ini kepada benuanta.co.id.
Sonny sangat memberikan kebebasan kepada setiap individu dalam menentukan pilihannya dalam menjalani kegiatan batik. Saat ini yang masih aktif didampingi oleh Sonny hanya beberapa saja.
“Satu ada yang bisu, ada yang cacat, mbak Lina masih ada tiga oranglah. Ada yang ikut orang lain, ada yang berhenti dan masih sekolah,” paparnya.
Perjuangan Sonny membantu para penyandang disabilitas sangatlah luar biasa dengan proses yang begitu melelahkan hingga saat ini mereka bisa mandiri tetapi masih di bawah naungan Kubedistik. Sonny sedang memperjuangkan nasib para penyandang disabilitas yang ia dampingi.
“Ini yang sedang kita coba pendekatan dengan instansi terkait, siapa sih yang mau memback-up,” terangnya.
Sangat diyakini Sonny bahwa para penyandang disabilitas yang ia dampingi memiliki kemampuan dalam membatik sudah tidak diragukan lagi hanya saja ia ingin ada yang bisa memberikan modal agar mereka bisa mandiri seutuhnya.
“Dari modal awal itu yang perlu kita support dari siapa pun lah,” jelasnya.
Mengenai perkembangan Arlina dan Hadi, kini perkembangan mereka berada di tingkat semi mandiri. Mereka sudah tidak lagi menyusahkan orang lain dan tidak lagi menggantung diri kepada orang terdekat untuk membantu dari segi materi, secara keseluruhan 80 persen sudah lepas dan tidak bergantung lagi.
“Tetapi sebagai orang tua ada kewajiban, ia sudah dapat menghasilkan sendiri,” bebernya.
Tahun ini merupakan tahun ke 5 dan bantuan program dari Pertamina EP Tarakan Field akan berakhir. Sonny berharap tidak lepas begitu saja. Ia berharap juga untuk bantuan pembinaan bisa tetap berdampingan walaupun lepas dari program Pertamina Kubedistik dapat berjalan mandiri.
“Dari sisi bantuan yang real mungkin dilepas tapi bantuan yang lainnya seperti soft skillnya,” tutupnya.(*)
Reporter: Sunny Celine
Editor: Ramli







