benuanta.co.id, TARAKAN – Masalah lalu lintas di Jalan Slamet Riyadi yang masih macet menjadi perbincangan hangat masyarakat Kota Tarakan.
Hingga kini, Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan belum mengambil langkah serius dalam menyikapi hal tersebut.
Berdasarkan pantauan reporter benuanta.co.id di lokasi, tampak sejumlah kesemrautan terlihat di sepanjang jalan tersebut.
Pada hari dan waktu tertentu, kondisi intesitas arus lalu lintas cukup tinggi sehingga menyebabkan kemacetan. Waktu rawan macet sering ditemui pada pukul 07.00 WITA hingga pukul 08.00 WITA, kemudian pada pukul 11.30 WITA hingga pukul 13.00 WITA dan Pukul 16.00 hingga 17.00 WITA.
Antrean panjang merupakan pemandangan sehari-hari bagi para pengguna jalan. Tak lagi dipungkiri Jalan Slamet Riyadi atau lebih di kenal Kampung Bugis merupakan pusat perputaran ekonomi, di mana daerah tersebut menjadi lokasi sejumlah aktivitas perdagangan masyarakat.
Kondisi ini diperparah dengan adanya sejumlah pertokoan di sepanjang Jalan Slamet Riyadi tidak memiliki ruang parkir yang cukup untuk menampung kendaraan pengunjung maupun kendaraan bongkar muat.
Akibatnya masyarakat harus memarkirkan sejumlah kendaraannya di badan jalan. Tidak hanya kendaraan roda dua maupun empat yang menggunakan jalanan tersebut, bahkan sejumlah truk pengangkut muatan air bahkan truk kontainer kerap menggunakan jalan tersebut.
Sejatinya permasalahan macetnya Jalan Slamet Riyadi sudah sempat dibahas oleh Pemkot Tarakan pada Juni 2023 lalu melalui rapat forum lalu lintas dan angkutan jalan.
Dari rapat tersebut menghasilkan tujuh poin kesepakatan yang akan menjadi acuan langkah perbaikan.
Salah satu permasalahan yang menjadi pembahasan pemerintah di antaranya sejumlah toko tidak memfungsikan halaman toko dengan baik.
Xanana (55), warga sekitar mengaku jika pengguna jalan kerap memarkirkan kendaraan di depan rumahnya. Lantaran kesal ia menuliskan sebuah plang larangan parkir.
“Jangan tanya penyebab macet, lihat aja sendiri,” kesal Xanana.
Saat dikonfirmasi, Ketua RT 17 Andriyanto menjelaskan hingga saat ini belum ada perkembangan signifikan dari Pemkot Tarakan.
Andriyanto mengaku sejauh ini ia pernah mendengar 3 wacana dari pemerintah yaitu, jalan satu arah, penertiban parkir serta pedagang yang berjualan di badan jalan.
“Saya harap bisa diterapkan secara baik-baik, jangan sampai membuat ekonomi di sekitaran Kampung Bugis mati,” ucapnya melalui pesan singkat, Selasa (26/9/2023).
Ia menerangkan, lantaran depan Hotel Makmur diberi pembatas jalan akibatnya sepanjang Jalan Seroja menjadi sepi.
“Padahal dahulu ada banyak yang berdagang di sekitar,” katanya.
Ia menyarankan, Jalan Slamet Riyadi boleh saja ditutup namun pada saat jam atau hari tertentu.
“Tapi kembali lagi, saya tidak mau berspekulasi. Semua kita serahkan ke Pemkot,” tegasnya.
Sebagai masyarakat sipil, Andriyanto hanya bisa mendukung yang telah diputuskan oleh pemerintah.
“Semoga ke depannya bisa lebih baik jalan kita,” tandasnya.
Terpisah, Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Mohdi menjelaskan, terkait tindak lanjut kemacetan, pihaknya telah berkoordinasi dengan pemilik Toko SR yang kini sudah melakukan tahapan pembangunan gedung.
“Untuk bagian depan digunakan untuk parkir kendaraan, selanjutnya untuk toko lama dimundurkan dan digunakan untuk parkir, saat ini bertahap, masih menunggu proses pembangunan,” ucapnya.
Mohdi mengatakan, intensitas kemacetan akan berkurang jika pembangunan tersebut rampung.
Dishub Tarakan pun masih menunggu tahap penyelesaian pengerjaan lahan dan komitmen dari pemilik toko untuk penyelesaian lahan parkir milik toko SR.
Selain itu Jalan Kenanga yang merupakan jalan penghubung antara Jalan Seroja dan Jalan Slamet Riyadi kini dalam proses pengerjaan.
“Jika rampung jalan kenanga diharapkan dapat mengurai kemacetan,” tutupnya. (*)
Reporter: Okta Balang
Editor: Yogi Wibawa







