benuanta.co.id, TARAKAN – Salah satu siswi sekolah menengah pertama (SMP) yang ada di Kota Tarakan, sebut saja Sakura (14) mengalami pelecehan oleh teman sekelasnya.
Kejadian tersebut sebulan lalu. Namun baru terkuak setelah orang tua Sakura melihat gelagat aneh dari putrinya yang tidak seperti biasanya. Saat kejadian tersebut pihak sekolah hanya memanggil orang tua pelaku pelecehan dan tidak melibatkan orang tua Sakura. Ada apa?
IY, ayah Sakura menjelaskan, putrinya mengalami pelecehan setelah ibunya yang merasa curiga dengan tingkah laku Sakura. Ternyata Sakura menyimpan rahasia itu dari orang tuanya. Bahkan kasus ini terkesan disembunyikan dari orang tua korban.
Nah, awal mula kasus ini bisa terungkap, saat ibu Sakura melihat salah satu postingan di Facebook yang ada kaitannya dengan pelecehan seksual. Sebagai seorang ibu yang peduli dengan masa depan anak perempuannya, ibu korban langsung berpesan kepada Sakura jangan sampai hal seperti dalam postingan itu menimpa anak perempuan kesayangannya itu.
“Mereka bicara mamanya menyampaikan, jangan sampai kamu begini nak, kata mamanya. Terbukalah anak itu, dia cerita saya aja dibully dilecehkan,” ujar IY meniru isi percakapan antara ibu dan Sakura kepada awak media yang menelusuri kasus ini pada Jumat (15/9/2023).
Kaget dengan pernyataan anaknya, Ibu Sakura pun langsung menanyakan kronologis kejadian yang Sakura alami di sekolahnya. Dari situ, sang Ibu makin yakin perubahan sikap anaknya ada kaitannya dengan kasus yang dialami Sakura di sekolahnya.
“Ia (korban) duduk-duduk temannya (si pelaku) lewat, kakinya masuk dari belakang (rok menuju ke arah kemaluan) anak saya. Dari guru BK hanya manggil orang tua pelaku satu bulan yang lalu. Jadi, yang didamaikan pelaku sama anak saya namanya anak-anak kan takut atau apa,” jelasnya menyesali langkah yang diambil pihak sekolah tanpa melibatkan orang tua korban.
Tak hanya itu, pelecehan lain pun dilakukan pelaku terhadap Sakura yakni dengan menusukkan gagang sapu ke arah kemaluan korban. Ini mengindikasikan si pelaku punya kelainan sehingga perbuatannya tergolong tidak terpuji kepada lawan jenis.
Mengetahui hal tersebut IY langsung mengambil tindakan dengan mendatangi pihak sekolah untuk meminta pertanggung jawaban. Namun, orang tua pelaku tidak dapat dihubungi oleh ayah korban.
Setelah adanya aduan tersebut terkuak lagi fakta jika pelecehan tersebut tidak hanya terjadi kepada Sakura. Ternyata pelaku juga melakukan tindakan tersebut kepada temannya yang lain.
“Kejadiannya pada teman-temannya yang lain, ada ancaman ke teman anak saya, jadi dia (teman Sakura) lapor ke guru BK diancam “tunggu kamu ya” begitu bahasanya,” terangnya.
Merasa tidak dihargai sebagai orang tua korban ia pun langsung mendatangi pihak sekolah karena melakukan mediasi sepihak. Guru wali kelas maupun BK tidak pernah menghubungi dirinya terkait masalah tersebut.
Setelah menghubungi pihak sekolah, keesokan harinya ia mendatangi sekolah Sakura. Namun, ia mendapati laporan anaknya baru diserahkan pihak BK ke Kepala sekolah (Kepsek).
“Berarti satu bulan ini kepsek nggak dikasih tahu, guru BK aja,” ungkapnya.
Menanggapi kejadian tersebut, kepala sekolah tempat Sakura menuntut ilmu ditemui benuanta.co.id enggan berkomentar. Ia mengarahkan untuk langsung menanyakan kejadian tersebut kepada Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik).
Kadisdik Kota Tarakan, Tamrin Toha mengungkapkan jika pihaknya belum mendapatkan laporan dari pihak sekolah. Jika ada kejadian seperti ini pihaknya pasti akan langsung mengambil tindakan mediasi korban dan pelaku.
“Tapi saya belum ada terima laporan. Kalau ada kasus seperti ini kepala sekolah harus segera melaporkan ke Disdik. Nanti di satuan pendidikan akan ada pembentukan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK),” terangnya.
Menurutnya, sanksi di dunia pendidikan saat ini paradigma berbeda dan tidak boleh ada sanksi terhadap anak. Jangan sampai ada kesan di dunia pendidikan terjadi diskriminatif. Anak sebagai pelaku maka penting untuk dilakukan mediasi.
“Banyak terjadi antara anak dan anak, tapi begitu guru misalnya menangani dia sebagai bentuk punishment pukul tangannya dan siswa melapor ke orangtuanya orang tua melapor ke polisi jadi kan laporan tidak sesuai fakta makanya TPPK penting di sekolah,” pungkasnya.(*)
Reporter: benuanta.co.id







