Energi Baru Terbarukan di TPAS Manggar Mampu Hidupi 305 Keluarga

benuanta.co.id, BALIKPAPAN – Di tengah penggunaan bahan bakar fosil yang masif dilakukan. Tempat Pemprosesan Akhir Sampah (TPAS) Manggar melakukan inovasi energi baru terbarukan (EBT) dengan memanfaatkan gas metana sebagai biogas untuk disalurkan kepada 305 keluarga.

TPAS Manggar sendiri telah dijadikan penimbunan sampah di Kota Balikpapan sejak tahun 2002. Namun pemanfaatan gas metana dari pengolahan sampah baru dilakukan pada tahun 2022.

Selang enam tahun kemudian, tepatnya di tahun 2018 TPAS Manggar mendapatkan dukungan Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT. Pertamina Hulu Mahakam.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) TPAS Manggar, Muhammad Hariyanto mengungkapkan, proses penangkapan gas metana dilakukan dengan menangkap gas yang mengalir melalui pipa ventilasi di zona penimbunan pipa vertikal atau penimbunan sampah.

Kemudian dialirkan ke rumah-rumah warga dengan menggunakan pipa horizontal dan dilengkapi gas separator sederhana.

Karena distribusinya gas metana tersebut dilakukan lewat pipa paralon, otomatis warga terdekat TPAS saja yang dapat dialiri gas tersebut. Namun karena banyak yang menggunakan, ketika ada kerusakan atau ada yang harus diperbaki pihak pengelola gas metana ini juga berinisiatif melakukan penarikan iuran untuk pemeliharaan.

“Iurannya Rp 10 ribu per rumah warga untuk dana operasional ataupun pemeliharaan jaringan pipa gas methan. Anggota kelompok yang mengelola dana ini juga dari warga semua,” ungkap Hariyanto kepada peserta Tim Jelajah Energi 2023, Rabu (6/9/2023).

Diketahui TPAS Manggar sendiri memiliki 7 zona landfill. Zona 5 memiliki 2,5 hektare, zona 6 dan 7 masing-masing seluas 3,25 hektare. Kemudian zona 1 sampai 4 masing-masing bervariasi ada yang seluas 0,6 hektare, 3 hektare dan 2 hektare. Secara total seluruh zona landfill ini memiliki luasan lahan 17 hektare.

“Memang sejak tahun 2020 Pemkot Balikpapan sudah ancang-ancang untuk mencari alternatif pengelolaan sampah landfill yang baru,” terangnya.

Sementara itu Manajer Penelitian IESR, Julius Christian, menyatakan pemanfaatan gas metana dari landfill selain memberikan bahan bakar gratis bagi warga di sekitar TPA juga berperan dalam pengurangan emisi gas rumah kaca.

Kalau tidak dimanfaatkan, gas metana yang dihasilkan dari timbunan sampah di landfill akan terlepas ke atmosfer dan menyebabkan efek rumah kaca yang 34 kali lipat lebih parah pengaruhnya ke pemanasan bumi dibanding karbon dioksida.

“Pemanfaatan gas metana ini juga mengurangi terjadinya akumulasi gas di timbunan sampah yang berpotensi menyebabkan ledakan dan longsor,” tutupnya. (*)

Reporter/Editor: Yogi Wibawa 

Calon Gubernur Kalimantan Utara 2024-2029 Pilihanmu
2637 votes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *