Pandangan Psikolog Dampak Putus Cinta pada Remaja, Ini Tips Obati Patah Hati

benuanta.co.id, TARAKAN – Patah hati atau putus cinta merupakan proses wajar dalam menuju kedewasaan. Namun, jika terus berlarut, hal tersebut cendrung membawa remaja ke hal negatif seperti melukai diri hingga bunuh diri.

Psikolog klinis remaja dan dewasa, Ratih Musfianita menjelaskan, berdasarkan pandangan secara psikologis, putus cinta merupakan hal yang wajar, kalangan remaja pasti pernah mengalami fase tersebut. bisa dikatakan hal tersebut merupakan sebuah proses pendewasaan.

Dalam penuturannya, Ratih menyampaikan sejumlah dampak akibat putus cinta, diantaranya akan merasakan kekecewaan, kemarahan, bahkan kesedihan yang mendalam.

Dampak tersebut merupakan hal yang wajar bila masih berada dalam batas normal. Artinya, marah, kecewa dan kesedihan tidak berlebihan dan berkepanjangan, apabila hal tersebut berlarut dan waktu lama, maka dampaknya akan lebih besar sehingga aktifitas sehari-hari dapat terganggu.

“Seperti sering bolos sekolah, melawan orang tua atau guru, berkelahi, bahkan melakukan tindakan kriminal lainnya. Selain itu, bisa saja mengarah pada gangguan psikologis lain apabila dampak dari putus cinta tidak bisa di kontrol,” terangnya.

Baca Juga :  Tradisi Wajib Barongsai Meriahkan Imlek di Kelenteng Toa Pek Kong Tarakan

Ratih mengatakan, jika perasaan atau emosi negatif berlarut-larut, tentu akan memiliki kecendrungan untuk melukai diri, hingga bunuh diri serta mengalami gangguan psikologis lainnya seperti depresi bahkan sampai gangguan jiwa.

“Terkadang, pasca putus cinta, remaja akan mencoba dengan cara berpura-pura tegar, hal tersebut bisa saja dan merupakan bagian dari bentuk self defence mechanisme atau mekanisme pertahanan diri untuk melindungi dirinya dari rasa yang tidak nyaman. Berpura-pura tegar merupakan cara menjaga kesehatan mental. Hal tersebut butuh waktu untuk dapat pulih kembali dari rasa sakitnya akibat putus cinta,” terangnya.

Ihwal pemulihan pasca putus cinta, Ratih menerangkan hal tersebut kembali kepada individu masing-masing, karena untuk pemulihan, tentu memerlukan waktu dan proses. Tiap individu memiliki cara sendiri dalam menyelesaikan permasalahan dan hal tersebut membutuhkan waktu sampai berbulan-bulan lamanya.

Anak Laki-laki maupun anak perempuan memiliki perbedaan dalam proses pemulihan pasca putus cinta. Ratih menyebutkan, anak perempuan akan mudah berbagi cerita kepada orang terdekatnya atau mengalihkan perasaannya dalam bentuk tulisan maupun membuat semacam buku harian. Selain itu, ada pula wanita yang memiliki tipe memendam perasaannya dan pulihnya lebih cepat seperti tidak terjadi apa-apa.

Baca Juga :  Tahun Kuda Api 2026, Diprediksi Bawa Peluang Besar Ekonomi

Sedangkan untuk anak laki-laki, biasanya akan mengalihkan perasaannya pada hobi yang ia gemari atau kegiatan olahraga yang disukai, seperti contoh melakukan aktivitas yang berhubungan dengan kendaraan, seperti memodifikasi kendaraannya atau lebih giat berlatih di bidang olahraga yang digeluti dengan tujuan untuk mengalihkan pikiran agar tidak mengingat kejadian yang membuatnya kecewa.

“Jadi pemulihan yang disebutkan diatas merupakan hal positif dan diharapkan harus bisa mengalihkan perasaan atau emosi negatif ke berbagai kegiatan yang lebih positif, walaupun selama proses pemulihan mereka menangis, nafsu makan berkurang bahkan mengurung diri. Sebenarnya hal tersebut wajar saja selama tidak berlarut,” ungkapnya.

Ratih memberikan sejumlah tips untuk mengobati luka pasca patah hati diantaranya, remaja harus bisa menerima dengan lapang dada atau segera bangkit untuk pulih, karena waktu terus berjalan. Selain itu, remaja yang telah patah hati perlu menyadari dan meyakini bahwa putus cinta bukanlah akhir dari segalanya.

Baca Juga :  Jelang Imlek, Polisi Cek Kesiapan Pengamanan di Tempat Ibadah

“Justru dengan putus cinta, masing-masing orang bisa belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa dan baik lagi. Selain itu, mereka juga bisa berhati-hati dalam mencari pasangan yang bisa saling membahagiakan dan saling memahami antara satu sama lain,” ucapnya.

Sebagai konselor, ia menyarankan agar remaja yang putus cinta dapat mencari kesibukan yang bermanfaat seperti fokus terhadap hobi maupun kegiatan diluar rumah, baik terkait akademis maupun non akademis, artinya fokus dalam memperbaiki diri.

“Bagi mereka yang sedih, marah, bahkan kecewa dalam jangka waktu yang lama sehingga menganggu aktivitas sehari-hari dan bahkan sampai melukai diri. Bahkan berkeinginan bunuh diri, segera mencari pertolongan dengan berkonsultasi dengan psikolog terdekat,” tutupnya.(*)

Reporter: Okta Balang

Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *