Sapi Lokal Dinilai Mahal, Pemda Selektif Terkait PMK

benuanta.co.id, TARAKAN – Peternak sapi lokal mengeluhkan sejumlah permasalahan sapi untuk kurban menjelang Hari Raya Idul Adha. Banyak sapi luar daerah Kaltara didatangkan membuat sapi lokal dinilai harganya lebih mahal.

Salah satu peternak sapi lokal dan penggemukan, Makmur mengungkapkan, dirinya tak mampu bersaing dengan harga sapi dari luar. Lantaran sapi lokal memiliki biaya yang tinggi dalam perawatannya.

“Ada yang saya pelihara setahun. Ada juga yang dari kecil. Kalau layak kurban kan dua tahun,” ungkapnya, Ahad (25/6/2023).

Perbedaan yang dimaksud terletak pada harga sapi dari luar lebih murah. Padahal, sapi seharusnya diberikan asupan pakan yang cukup. Menurutnya, harus terdapat pendataan jumlah sapi lokal.

“Yang digemukkan itu harusnya di data dan sapi lokalnya. Sehingga ada keadilan sosial nanti,” sebutnya.

Makmur pun mengetahui bahwa sejauh ini terdapat beberapa kali pengiriman sapi dari luar Tarakan. Hal inipun tentu membuat peternak sapi lokal mati lantaran lebih banyak sapi dari luar yang masuk ketimbang sapi lokal sendiri.

Baca Juga :  Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan Pastikan Stok dan Penyaluran LPG 3 Kg di Tanjung Selor Tetap Aman dan Terkendali

Tak hanya dirinya, peternak lain juga mengeluhkan hal yang serupa. “Mengeluhnya ke saya. Tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa. Karena rezeki tidak akan tertukar. Tetapi harus diusahakan juga mungkin salah satu upaya kami ini ya bersuara di media,” bebernya.

Ia juga mempertanyakan saat menjelang hari raya Idul Fitri kemarin, sapi sangat sulit untuk masuk ke Tarakan. Tetapi menjelang Idul Adha, sapi yang masuk ke Tarakan disinyalir membludak.

Ia juga menyayangkan tindakan dari pedagang lain yang membeli sapi dari luar Tarakan kemudian dijual kepada konsumen dengan harga peternak.

“Setahun lalu saya beli sapi juga dari luar. Itu kan untuk proses penggemukan. Tapi, ternyata mereka menjual sapi tersebut ke pembeli sama dengan harga petani. Sama saja peternak lokal dikadalin. Ini merugikan sekali petani lokal,” imbuhnya.

Baca Juga :  Kemenkop RI Dukung Penuh Permodalan Koperasi Merah Putih di Daerah

Ia mengharapkan kepada pemerintah, setidaknya ada regulasi yang menciptakan sebuah keadilan bagi peternak sapi lokal dan juga penjual sapi dari luar daerah.

“Kita tidak menutup rezeki orang. Juga dengan orang yang mau berkurban. Silahkan cari yang termurah. Tetapi, begitu orang nanya ke saya harganya itu tidak kembali, berarti dianggap mahal,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Tanaman Pangan (Disnaktan) Elang Buana mengaku terdapat beberapa pelaku usaha yang mendatangkan sapi terlambat. Biasanya pengiriman sapi dari luar daerah harus dilakukan 6 bulan sebelum lebaran Idul Adha.

“Biasanya digemukkan selama 6 bulan. Sekarang waktunya sudah mepet,” sebutnya.

Fenomena harga sapi yang kian tinggi ini dikatakannya tak hanya terjadi di Indonesia. Kenaikan harga berkisar antara Rp 1 hingga 2 juta rupiah. Hal ini terjadi lantaran biaya kesehatan bagi hewan ternak seperti vaksinasi, dan juga PCR.

Baca Juga :  Indosat Hadirkan GENsi di Tarakan untuk Perkuat Literasi Digital dan AI

“Itu memerlukan biaya. Kemudian kita ini kadangkala survei dulu ke beberapa lokasi yang belum bebas dari PMK. Kita survei ke tempat penampungannya, kemudian transportasi yang disertai disinfektan juga,” lanjutnya.

Disinggung menyoal harga sapi lokal yang cenderung tinggi ia tak menampik. Tetapi harga tersebut pun masih menyesuaikan dengan bobot sapi dengan minimum harga kisaran Rp 23 juta.

Ia juga menyebutkan bahwa peternak sapi lokal tidak sepenuhnya kalah saing dengan peternak sapi dari luar. Mengingat, sapi yang digemukkan kemudian dikenal dengan sapi lokal cenderung berasal dari wilayah luar Tarakan. “Tergantung bobot badan saja itu,” pungkasnya. (*)

Reporter: Endah Agustina

Editor: Ramli

WhatsApp
TERSEDIA VOUCHER

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *