Waspada! Penyakit Leptospirosis Bisa Mengancam Nyawa saat Banjir

benuanta.co.id, TARAKAN – Banjir yang menggenangi sejumlah daerah di Kota Tarakan beberapa pekan terakhir berpotensi menyebabkan sejumlah penyakit. Salah satunya penyakit leptospirosis yang disebabkan oleh kencing tikus.

Administrator Kesehatan Ahli Muda Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan, Bahriyatul Ulum menjelaskan, leptospirosis merupakan salah satu penyakit berbahaya yang bisa menimbulkan kematian.

Gejala penyakit tersebut meliputi demam tinggi, sakit kepala, tidak nafsu makan, diare, mata merah, nyeri pada otot khususnya pada otot betis dan punggung bawah. Biasanya, gejalanya muncul 1 sampai 2 minggu setelah terpapar bakteri leptospira.

“Saat banjir, masyarakat perlu waspada jika memiliki luka pada bagian kaki. Entah luka besar ataupun luka kecil. Karena air banjir yang terkontaminasi dari kencing tikus dapat masuk ke tubuh manusia melalui luka. Nanti bakteri leptospira masuk ke tubuh melalui peredaran darah yang akan menimbulkan penyakit leptospirosis,” terangnya, Senin (29/5/2023).

Baca Juga :  Nyeri Pinggang Tanda Kanker Ginjal atau Batu Ginjal Sulit Dibedakan

Untuk mengetahui seseorang terkena leptospirosis, masyarakat bisa melakukan pemeriksaan laboratorium. Jika hasilnya positif, petugas bisa mengkonfirmasi penyakit tersebut kepada pasien.

“Pada prinsipnya, jika terkena genangan banjir, masyarakat perlu menjaga kebersihan dan melakukan deteksi dini jika muncul sejumlah keluhan segera datang ke Puskesmas. Penyakit tersebut berbahaya dan dapat mengakibatkan kematian jika proses penanangannya terlambat. Terkait banjir belakangan ini, belum ada terlapor secara signifikan terhadap kasus tertentu. Pada tahun sebelumnya, terdapat kasus leptospira yang menyebabkan penderita meninggal dunia,” bebernya.

Bahriyatul pun menyarankan masyarakat agar dapat menerapkan prilaku hidup sehat. Baik sebelum dan sesudah banjir.

Baca Juga :  Nyeri Pinggang Tanda Kanker Ginjal atau Batu Ginjal Sulit Dibedakan

“Setelah selesai membersihkan sisa banjir masyarakat wajib menjaga kebersihan tubuh, seperti mencuci tangan menggunakan sabun atau bisa langsung mandi itu jauh lebih baik. Pastikan alat yang digunakan juga benar-benar bersih, masyarakat juga disarankan untuk menggunakan cairan disinfektan atau cairan yang dapat membunuh kuman penyakit yang ditimbulkan pasca banjir,” ucapnya.

Mencegah penyakit leptospirosis merebak di masyarakat. Dinkes Kota Tarakan memiliki program surveilans sentinel leptospirosis dengan melakukan pemetaan di sejumlah kelurahan. Termasuk membedah ginjal tikus guna mengetahui bakteri leptospira pada tikus tersebut.

“Dari hasil pengambilan sampel tikus, ada banyak tikus yang terkena bakteri leptospira di sejumlah daerah di Kota Tarakan. Jadi masyarakat diwajibkan menjaga kebersihan lingkungan, salah satunya juga pengelolaan sampah juga sangat penting, karena tikus sangat menyukai terhadap sejumlah sampah,” ungkapnya.

Baca Juga :  Nyeri Pinggang Tanda Kanker Ginjal atau Batu Ginjal Sulit Dibedakan

“Tahun 2022, ditemukan bakteri leptospira di Kelurahan Karang Rejo, Karang Balik dan Karang Anyar. Untuk hasil laboratorium tahun ini belum keluar, nanti akan kami informasikan,” imbuhnya.

Mengatasi kepadatan populasi tikus, ia menjelaskan bisa dikendalikan dengan cara tidak membuang sampah sembarangan dan perangkap secara mandiri. Pasalnya habitat tikus akan terus bertambah jika masyarakat masih abai dalam kebersihan lingkungan.

“Populasi tikus yang tinggi sangat membahayakan kesehatan masyarakat. Tugas pengendalian tikus bukan hanya tugas pemerintah saja, masyarakat juga perlu berperan,” tutupnya. (*)

Reporter: Okta Balang

Editor: Yogi Wibawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *