Penentuan 1 Syawal 1444 Hijriah, Tunggu Hasil Pantauan Hilal

benuanta.co.id, BULUNGAN – Seperti pada awal penentuan 1 ramadan dengan melakukan pemantuan hilal atau anak bulan, Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) pun kembali akan melakukan kegiatan yang sama untuk menentukan masuknya bulan baru atau 1 syawal.

Hal itu diungkapkan Kepala Kanwil Kemenag Kaltara Saifi Jamri mengatakan umat Islam tidak lama lagi akan mengakhiri bulan suci ramadan 1444 hijriah.

“Kemenag akan melakukan Rukyatul Hilal, Insya Allah sekitar tanggal 20 April 2023. Untuk Kemenag Kaltara akan melakukannya di Kota Tarakan,” ujarnya kepada benuanta.co.id, Jumat 14 April 2023.

Baca Juga :  Serahkan Sertifikat Lahan, Gubernur Harap Kejati Kaltara Segera Terwujud

Pihaknya belum bisa memastikan apakah lebaran Idul Fitri akan sama untuk tahun ini, pasalnya untuk organisasi keagamaan Muhammadiyah dan Negara Saudi Arabia akan melaksanakan salat Idul Fitri pada tanggal 21 April 2023.

“Nanti kita tunggu saja, apakah nanti lebaran ini jatuh sesuai harapan kita secara bersama-sama atau perbedaan,” terangnya.

Dirinya berharap agar lebaran Idul Fitri serentak di seluruh Indonesia, ini seperti pada awal 1 ramadan sama-sama melaksanakan di tanggal 23 Maret 2023 baik dari pemerintah maupun dari Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Baca Juga :  Tahun Depan Perwakilan Balai Kementerian PUPR Berkantor di Kaltara

“Namun keputusan akhir tetap harus kita melihat hasil daripada Rukyatul Hilal yang dilaksanakan di seluruh Indonesia. Harapan kita bisa bersama-sama,”

Seandainya terjadi perbedaan pun, Saifi melanjutkan, masyarakat dapat menerima dengan lapang dada dan ini sesuatu yang tidak dapat dihindari.

Dia mengatakan masuknya bulan baru, dapat dilihat jika bulan itu tingginya telah mencapai 2 derajat. Maka pemerintah menyatakan hal itu sudah masuk tanggal 1 syawal.

Baca Juga :  Temuan DBD dan Malaria, Dinkes Kaltara Lakukan Penyelidikan Epidemiologi 

“Tetapi kalau terjadi cuaca buruk, mendung, hujan dan hilal tidak bisa terlihat maka bulan bulan ramadan harus dibulatkan menjadi 30 hari. Tapi jika sudah terlihat walaupun puasa baru 29 hari, maka besoknya sudah harus lebaran,” pungkasnya. (*)

Reporter: Heri Muliadi

Editor: Yogi Wibawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *