Salah Satu Situs Peninggalan Sejarah di Tarakan Nyaris Hancur

benuanta.co.id, TARAKAN – Situs peninggalan sejarah Perang Dunia II yang terletak di Jalan Teuku Umar Kelurahan Pamusian, Kota Tarakan tengah dalam perbaikan oleh pihak pemerintah. Pasalnya, peninggalan sejarah berupa bunker ini nyaris hancur karena pekerjaan proyek yang hendak didirikan di wilayah tersebut.

Dinas Kebudayaan, Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kota Tarakan bersama Komunitas Tarakan Tempoe Doloe mengecek langsung ke lokasi bersejarah itu pada Sabtu, 4 Februari 2023 kemarin.

Menurut informasi, lokasi bersejarah tersebut hendak didirikan bangunan untuk membuka usaha oleh tangan kedua yang menyewa dengan pemilik lahan. Namun belum terdapat komunikasi mengenai bunker bersejarah tersebut.

“Bisa jadi mereka mungkin tahu bahwa ini adalah peninggalan. Tapi mungkin berpikir tidak ada kepentingan apa-apa dengan mereka sehingga mereka tidak berpikir untuk melestarikan,” ujar Kabid Kebudayaan, Abdul Salam, Ahad (5/2/2023).

Dalam hal ini pihak Disbudporapar terus melakukan sosialisasi terkait situs-situs bersejarah di Kota Tarakan. Menurutnya, masyarakat perlu mengetahui peninggalan bersejarah di Tarakan dipertahankan oleh pemerintah.

Baca Juga :  Satpol PP Tarakan Ingatkan Pedagang Takjil Tak Jualan di Pinggir Jalan

“Dalam undang-undang itu tidak hanya pemerintah yang mempertahankan. Tapi juga masyarakat. Contohnya peninggalan ini, area ini kan ada pemilik lahannya. Secara normatif kalau dia pemilik lahan dia juga yang pemilik ini (peninggalan sejarah) harusnya merawat,” bebernya.

Saat ini kondisi bunker peninggalan perang dunia tersebut sudah tak utuh lagi akibat pekerjaan proyek di area tersebut. Terdapat sekitar 2 meter dari panjang bunker tersebut yang sudah hancur.

Saat ini pemerintah hanya meminta pertanggung jawaban dari pihak yang diduga melakukan pengerusakan ini.

“Kita sudah ngobrol juga dengan pihak yang melakukan pengerusakan. Tapi hanya ada tukangnya di sini. Ya mereka akan mengembalikan bangunan tapi tidak semerta-merta kita lepas. Ada konstruksi ulang, seperti bahan-bahan yang sudah dihancurkan harus digunakan kembali,” lanjut Salam.

Baca Juga :  Cuaca Berubah-ubah hingga Cenderung Mendung Berawan, Ini Kata BMKG Tarakan

Pihaknya juga sempat melakukan komunikasi dengan pemilik lahan dengan melayangkan surat tiga bulan yang lalu. Namun, pemilik lahan menyebut bahwa pengerusakan itu tidak dilakukan olehnya melainkan orang yang menyewa.

“Akhirnya ditangguhkan surat itu. Saat itu sudah clear jadi saya pikir tidak ada masalah. Tapi hari ini (kemarin) sifatnya berdampak kepada pengerusakan,” sebutnya.

Ia melanjutkan di tahun ini bangunan tersebut tengah dalam proses penetapan cagar budaya. Dalam peraturan cagar budaya pun terdapat aturan yang fleksibel seperti kewenangan tak hanya pada pemerintah juga kepada masyarakat yang memiliki lahan tersebut.

Ia mengimbau kepada masyarakat yang menguasai peninggalan sejarah harus sesuai dengan peraturan yang ada.

“Kalau masyarakat ketika ada peninggalan tidak mau merawat bisa dilimpahkan ke pemerintah. Tentu ada surat menyuratnya lagi. Kalau mereka merusak ya sama posisinya berarti pemerintah juga merusak. Ada ancaman denda dan pidana,” terangnya.

Baca Juga :  Hari Pertama Puasa TPU Karang Anyar Ramai Dikunjungi Peziarah

Terpisah, pekerja yang diminta untuk mendirikan proyek di area tersebut mengaku ia hanya mengikuti instruksi dari yang mempekerjakannya. Ia juga tak menampik permintaan dari pemerintah untuk memperbaiki kembali situs bersejarah tersebut.

“Saya sudah belikan semen dan kerikil juga. Ternyata hari Senin nanti tunggu keterangan dari Dinas Kebudayaan. Ya sementara saya rapikan aja dulu,” tutur Santoso

Ia juga mengetahui bahwa lokasi yang ia tengah garap merupakan situs bersejarah. Ia juga sempat berkoordinasi dengan warga sekitar terkait pembongkaran bunker tersebut.

“Ada yang bilang boleh ada yang bilang tidak. Saya komunikasi ke Koramil saja, katanya jangan jadi saya stop,” kata dia.

Lebih lanjut ia mengungkapkan telah berkoordinasi dengan pihak yang mempekerjakannya. Untuk pemilik lahan sendiri saat ini sedang berada di luar Tarakan. (*)

Reporter: Endah Agustina

Editor: Yogi Wibawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *