Disebut Tak Berdampak tapi Masyarakat Butuh Hiburan

benuanta.co.id, TARAKAN – Baru saja dibuka Desember 2022 lalu, Cinema XXI di Grand Tarakan Mall (GTM) sudah ternacam tutup lantaran kasus pailit yang dilontarkan Tim Kurator kepada pengelola.

Hal itu tentu sangat disayangkan lantaran warga Kalimantan Utara (Kaltara) khususnya Tarakan yang menantikan hiburan bioskop XXI dibuat bertanya-tanya terkait permasalahan yang cukup menghebohkan warga Tarakan itu.

Namun begitu, salah satu Pengamat Ekonom di Tarakan, Dr. Margiyono, S.E., M.Si mengatakan penutupan tempat hiburan tidak terlalu berdampak kepada roda perputaran ekonomi daerah. Menurutnya, Cinema XXI hadir karena pilihan masyarakat yang tak lagi berpihak pada hiburan yang bersifat baku dan monoton. Sebab, menurut dia masyarakat dihadapkan dengan banyak pilihan seperti pemanfaatan akun sosial medianya.

“Jadi pilihan ini berbeda dengan pilihan tahun 90-an. Yang saat itu tidak ada hiburan lain selain pertunjukan film. Sekarang kan pengusaha hiburan dikaitkan dengan tingkat persaingan yang tinggi dan kejenuhan juga,” urainya saat dihubungi benuanta.co.id, Senin (23/1/2023).

Baca Juga :  Tekan Laka di Bawah Umur, Polisi Tertibkan Knalpot Racing Milik Pelajar

Berita Terkait : 

Ia juga menyebut bahwa dalam persoalan ini pilihan hanya ada dua. Cinema XXI dipaksa tutup atau melakukan relokasi. Margiyono melanjutkan, aspek hiburan pun tidak ada di dalam perumusan pendapatan ekonomi seseorang. Terlebih dalam penentuan upah minimum juga tak ada aspek hiburan.

“Sangat kecil sekali (dampak ekonominya). Pajak nya pun lewat gedungnya kan,” sebutnya.

Ia menilai saat ini masyarakat cenderung menyukai wisata kuliner dibandingkan aspek hiburan lainnya.

“Palingan orang makan di luar juga. Ya akan berjalan sebagaimana mestinya. Mungkin berkaitan dengan izin saja. Ya prediksi saya juga Cinema XXI di Tarakan umurnya pendek, karena komponen hiburan tidak ada dalam UMP juga,” bebernya.

Baca Juga :  Percobaan Pencurian Dalam Rumah di Jalan Kusuma Bangsa Digagalkan Warga

Meski tak dianggap tak berdampak kepada ekonomi, namun berbeda dengan pengakuan beberapa warga Tarakan yang menyangkan bila GTM benar – benar di segel dan berdampak pada Cinema XXI di dalamnya.

Indri (23) misalnya, mengaku sebagai salah satu orang yang menanti kehadiran bioskop di Tarakan. Animo masyarakat dengan hadirnya bioskop di GTM yang cukup tinggi, menurutnya sudah bisa menjadi penilaian bahwa masyarakat Kota Tarakan haus akan hiburan baru.

“Ya sayang aja sih. Karena kan ini kan memang sudah tersebar sejak lama kalau mau ada bioskop di Tarakan. Sekarang sudah ada bioskop tapi malah mau tutup,” ujarnya.

Sebagai masyarakat ia juga menilai sebagian kalangan juga sangat tertarik dengan dunia perfilman. Terlebih sejak ada Cinema XXI di GTM, aktivitas masyarakat menjadi ramai. Kendati GTM pernah mendapat predikat Mall tersepi di dunia.

Baca Juga :  Tinggalkan Sapi Sembarangan, Pemilik Kena Denda Rp 1 Juta

“Dulu dinobatkan sebagai mall tersepi tapi sejak ada XXI kemudian banyak juga saya lihat usaha yang berdiri di lantai dasar. Ya jadi beraktivitas kembali. Semoga jangan ditutuplah itu (bioskop) kan sebagai pilihan hiburan masyarakat juga,” tutupnya.

Senada dengan Indri, Khairil (40) pun mangaku sangat prihatin dengan kasus yang menimpa GTM. Menurut dia tak sedikit warga yang akan kecewa dengan penutupan GTM. Meski sudah lama tidak difungsikan sebagaimana layaknya mall, namun dengan kehadiran Cinema XXI di dalamnya cukup mengembalikan fungsi mall untuk dikunjungi.

“Saya juga kurang ngikuti, jadi kurang tau apa juga permasalahan sebenarnya. Kita – kita ini yang warga biasa yang menanti adanya hiburan seperti di kota lain juga. Ya masa mall sebesar itu di tengah kota tidak difungsikan, kan sayang,” tuntasnya. (*)

Reporter: Endah Agustina

Editor : Nicky Saputra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. menurut saya sayanglah jika sampai terjadi penutupan kenapa karena masyarakat sekarang ini perlu kebersamaan dengan sanak famili atau keluarga untuk hiburan sebagai alternatif yg selama ini sudah tidak ada lagi, masa gedung yg indah dan besar di tengah kota tidak produktif yang kedua dengan di bukanya cinema XXI ini menunjukkan bahwa kota Tarakan cukup layak untuk Kota berkembang dan ini menjadi salah satu program yang dapat membantu pemerintah dalam mengurangi pengangguran warga atau masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan sehingga pemerintahpun akan di untungkan dengan mendapatkan PAD yaitu Pajak Hiburan dengan regulasi pajak yang ditetapkan pemerintah pusat, tarif umum untuk pajak ditetapkan sebesar 35% dari dasar pengenaan pajak. kan lumayan tu pemerintah daerah bisa mendapatkan keuntungan Pajak Hiburan sesuai dengan Regulasi yg ditetapkan. seharusnya Gubernur yg ketika itu ikut meresmikan usaha hiburan ini juga turut peduli dengan membantu menyelesaikan perihal nasib usaha hiburan yg baik ini