Angka Stunting di Nunukan Turun 16,8 Persen Lebih Rendah dari Target

benuanta.co.d, NUNUKAN – Angkat stunting di Kabupaten Nunukan mengalami penurunan mencapai target yaitu angka prevalensi stunting 16,8 persen lebih rendah dari target 2022.

Pemerintah menargetkan angka prevalensi stunting turun dari posisi 27 persen pada 2019 menjadi 18,4 persen pada 2022 menjadi fokus utama Dinkes P2KB, di tahun 2022 telah berhasil mencapai target yaitu angka prevalensi stunting 16,8 persen lebih rendah dari target 2022. Hal itu disampaikan oleh Kepala Bidang Kesmas, Sabaruddin, S.KM., M.Kes, pada Ahad (22/1/2023).

Pendataan stunting berdasarkan data dari e-PPBGM yaitu sistem aplikasi online pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat.

“Kami akan tetap menjalankan program yang sudah berjalan di tahun 2022 seperti memaksimalkan capaian program seperti meningkatkan capaian remaja putri mengkonsumsi tablet Fe, capaian pelayanan ibu hamil, nifas, capaian vaksinasi, pemberian makanan tambahan, disamping itu juga mempertahankan lingkungan tetap pada PPKM level 1,” kata Sabaruddin.

Baca Juga :  Subsidi Ongkos Angkut di Nunukan Berjalan Lancar

Walaupun terjadi penurunan di tahun 2022, Dinkes P2KB akan memaksimalkan kerja dari tim pendamping keluarga untuk tahun 2023, karena yang menjadi sasarannya adalah keluarga beresiko stunting.

Dinkes P2KB Nunukan juga akan membuat inovasi sistem informasi mempercepat analisa masalah pada orang per orang berdasarkan pengamatan dan pengukuran di lapangan, faktor apa yang bisa menyebabkan anak tersebut stunting sehingga intervensi dapat cepat dan tepat pada individu.

Baca Juga :  Pemda Nunukan Targetkan 1000 Anak Bebas dari Status Stunting Tahun Ini

“Faktor penyebab stunting beragam bisa saja dari lingkungan, pengasuhan, asupan makanan, tingkat ekonomi dan lain sebagainya,” jelasnya.

Apabilasemua kasus yang ditemukan masuk dalam sistem informasi dan berjalan dengan baik maka kasus stunting dapat diubah menjadi tidak stunting dengan pedoman intervensi yang sudah dikumpulkan.

Saat ini pemerintah daerah telah membentuk Ayah Bunda Asuh Anak Stunting juga merupakan kegiatan yang concern pada pemenuhan asupan gizi yang adekuat pada anak yang berpotensi stunting yang berasal dari Ibu yang memiliki riwayat kehamilan dengan KEK (Kekurangan Energi Kronis), BBLR ( Bayi Berat Lahir Rendah) termasuk premature, Bayi dan Balita dengan Gizi Kurang maupun Gizi Buruk.

Baca Juga :  Pemda Nunukan Targetkan 1000 Anak Bebas dari Status Stunting Tahun Ini

Sabaruddin juga mejelaskan akan menggandeng penanggung jawab intervensi stunting dengan perusahaan-perusahaan melalui donasi dan bekerjasama dengan swasta.

Tim Percepatan Penurunan Stunting yang sebelumnya hanya di Tingkat Kabupaten sekarang sudah meluas keberadaannya secara kelembagaan di tingkat kecamatan dan juga desa, ini juga akan meningkatkan percepatan penurunan stunting.

Pihaknya berharap angka prevalensi stunting dapat turun hingga kurang dari 14 persen pada tahun 2023. Mereka juga akan tetap bersinergi dan berkomitmen dalam penurunan angka stunting yang mana ini merupakan program prioritas pembangunan manusia Indonesia. (*)

Reporter: Darmawan

Editor: Yogi Wibawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *