Situs Jual Beli Organ Tubuh Diblokir, Perlu Pengawasan Penggunaan Internet pada Anak

benuanta.co.id, MAKASSAR – Buntut dari kasus penculikan disertai pembunuhan anak di bawah umur di Kota Makassar, Sulawesi Selatan berinisial MFS (11 tahun), pemerintah langsung memblokir sejumlah situs yang ditengarai untuk jual beli organ.

Pasalnya kasus yang menimpa MFS, lantaran pelaku A (17 tahun) dan F (18 tahun) nekad melakukan aksinya karena terobsesi menjual organ tubuh dari situs internet.

Adapun situs yang diblokir Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), yakni https://organcity.com/, https://heavenlyorgans.com/, dan http://drsamuelbansal.blogspot.com pada Jumat, (13/1/2023). Pemblokiran tersebut setelah Kemenkominfo menerima laporan dari Polri.

Jika mengacu pada kasus penculikan disertai pembunuhan korban MFS, polisi menyebutkan bahwa kedua pelaku tidak memiliki kaitan atau terlibat dengan sindikat perdagangan organ tubuh manusia.

Bahkan situs yang diklaim pelaku adalah fiktif. Kendati polisi telah menelusuri situs yang dimaksud oleh pelaku, namun tidak dapat diakses.

“Makanya dia sempat kebingungan ketika korban meninggal, dia bingung mau diapain, akhirnya dibuang,” kata Kapolrestabes Makassar, Kombes Budi Haryanto kepada wartawan.

Baca Juga :  Presiden Jokowi Ikut Merespon Ibu di Gowa yang Cekoki Bayinya dengan Kopi

Sementara itu, salah seorang pegiat Information AND Technology (IT) di Kota Makassar, Alif menilai, bahwa situs ilegal di internet biasanya memiliki tingkat kerahasiaan tinggi dan sulit diakses.

“Biasanya seperti itu. Contohnya kita masih ingat waktu marak aplikasi pinjol (pinjaman online) yang ilegal, kita cuman pinjam Rp2 jutaan prosesnya begitu panjang. Apalagi kalau berat seperti ini,” kata dia ketika diajak berbincang, Ahad malam, (15/1/2023).

Hanya saja dia tidak mengetahui secara spesifik terkait jumlah situs penjualan organ tubuh melalui internet di Indonesia, atau secara khusus di Sulawesi Selatan.

“Kalau untuk angkanya perlu kita melakukan riset. Tapi kalau kita melihat kejadian yang viral belakangan ini, artinya untuk menjangkau situs seperti ini cukup mudah,” urai Alif.

Diketahui pelaku A dan F nekad menghabisi nyawa MFS karena terobsesi menjual organ tubuh di situs Yandex.

Berdasarkan penelusuran, Yandex merupakan perusahaan berbasis di Rusia yang menyediakan layanan mesin pencari atau search engine dan disebut sebagai Google-nya Rusia. Browser tersebut menjadi mesin pencari yang paling banyak digunakan di Rusia dengan lebih dari 50% pangsa pasar.

Baca Juga :  Satu DPO Kasus Pencurian Tertangkap di Belakang BRI, Judi Slot Jadi Alasannya

Terpisah Advokat Senior di Sulawesi Selatan, Farid Mamma berharap, polisi menelusuri lebih mendalam kejadian tersebut. Sebab kedua pelaku yang notabene di bawah umur dan termotivasi melakukan tindak pidana serius.

“Ini sangat memperihatinkan. Apakah anak ini bertindak sendiri berdasarkan alur pikir dan kemampuan yang ia miliki, atau apakah ada pihak lain yang memberikan iming-iming sesuatu. Itu juga perlu digali,” kata adik kandung mantan Wakabareskrim Polri, Irjen Pol (Purn) Syahrul Mamma itu.

Di sisi lain, peran aktif orang tua kepada anak terkait penggunaan internet perlu diperketat lagi. Apalagi di sejumlah sosial media tawaran penjualan organ tubuh berseliweran. Mulai Facebook hingga Instagram.

Dari penelusuran beberapa akun di media sosial yang hendak menawarkan organ tubuh, ketika dihubungi hanya menjawab, “lagi butuh uang,” kemudian dikonfirmasi ulang tidak lagi merespon.

Baca Juga :  Putri Tolak Keras Dianggap Ganti Pakaian untuk Skenario Pembunuhan
Tangkapan layar di salah satu grup Facebook terkait penjualan organ tubuh manusia.

Di sisi lain, benuanta.co.id juga berusaha mengonfirmasi sejumlah dokter ahli bedah atau pihak yang mengetahui tentang organ tubuh manusia, tapi enggan merespon. Upaya ini untuk memperjelas terkait transplantasi organ tubuh manusia yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No.53 tahun 2021 tentang Transplantasi Organ dan Jaringan.

Tangkapan layar di Telegram layanan penjualan organ tubuh manusia.

Adanya kasus penculikan dan pembunuhan anak di Kota Makassar menjadi perhatian publik belakangan ini. Mengingat motif pembunuhan diduga ingin melakukan penjualan organ. Lebih ironisnya, pelaku masih berstatus di bawah umur.

Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan ‘Danny’ Pomanto meminta agar seluruh orang tua mengawasi anaknya dengan ketat. Khususnya dalam mengakses dunia maya yang semakin terbuka.

“Makanya program Jagai Anakta’. Ini bukan hanya di lingkungan sekitar, tetapi juga di sekolah, ini pelajaran bagi kita,” tegas Danny pasca viralnya insiden tersebut.

“Makanya kalau semua orang menjaga anaknya, InshaAllah semua akan terkontrol dengan baik,” tandas Danny menambahkan. (*)

Reporter: Akbar

Editor: Yogi Wibawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *