Sistem Drop Zone di Pelabuhan SDF, Masih Banyak Kendaraan Pribadi Kebal Aturan

benuanta.co.id, TARAKAN – Pelabuhan Tengkayu I Kota Tarakan atau SDF kini menerapkan sistem drop zone. Artinya pengguna kendaraan pribadi tak boleh lagi memasuki area dermaga keberangkatan maupun kedatangan.

Kepala UPTD Pelabuhan Tengkayu I Tarakan, Muhammad Roswan mengatakan pihaknya perlahan melakukan sosialisasi terhadap sistem baru ini. Ia menegaskan sistem pembatasan dilakukan guna mengurai kemacetan di area dermaga.

“Pelabuhan kita sudah 25 tahun tentu memerlukan perawatan. Kemacetan juga sering terjadi, sebanyak apapun kita kerahkan petugas tetap juga macet karena ada kapal barang dan penumpang,” katanya, Senin (16/1/2023).

Pihaknya pun sempat melakukan sterilisasi pada beberapa waktu lalu namun dinilai kurang maksimal karena penahanan hanya terjadi di titik pintu pos 2. Akhirnya pihaknya melakukan evaluasi sehingga membutuhkan ruang parkir yang saat ini digunakan sebagai titik drop zone.

Baca Juga :  PSDKP: Tarakan Masuk Zona Dua Penangkapan Ikan Tradisional

“Dermaga kita memang baru tapi kan terminalnya masih lama. Ya cuman anggaran ini belum ada. Kami berharap ada anggaran untuk pematangan sistem ini,” tuturnya.

Kendati sistem drop zone ini menuai pro kontra dari penumpang maupun masyarakat yang sering beraktivitas di Pelabuhan Tengkayu I, pihaknya mengharapkan hal ini dapat mengurai kemacetan.

Berdasarkan pantauan benuanta.co.id di lokasi terdapat beberapa kendaraan yang masih menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat untuk ke area dermaga. Ia mengatakan kendaraan yang diperbolehkan memasuki area dermaga adalah untuk barang dan kendaraan darurat seperti ambulance. Adapun titik parkir di area dermaga yang diperbolehkan yakni di area sebelah kiri dermaga keberangkatan.

Baca Juga :  Tinggalkan Sapi Sembarangan, Pemilik Kena Denda Rp 1 Juta
BELUM STERIL: Dermaga pelabuhan Tengkayu I, terlihat masih belum sepenuhnya steril dari kendaraan pribadi kendati telah dilakukan sistem drop zone. (FOTO: YOGI WIBAWA/BENUANTA)

“Itu yang masih kami mau evaluasi lagi. Kita jaga titik macet aja, supaya teratur,” sebutnya.

Roswan melanjutkan, pihaknya telah mengusulkan sebesar Rp 2,9 miliar. Namun penganggaran ini merupakan ranah dari Dinas Perhubungan Provinsi Kaltara.

Sementara itu, salah satu pengunjung, Mitha (25) mengaku sistem ini sedikit menyulitkannya untuk memasuki area dermaga. Terlebih akses menuju dropzone terbilang berlumpur karena hujan.

“Saya mau antar adek saya saja berangkat ke Tanjung Selor. Ya baru tahu sih kalau dialihkan begini. Cuma ya diperbaiki lah jalanan di depan itu agar tidak licin,” ucapnya.

Ia mengatakan sistem drop zone ini terbilang masih kurang efektif. Karena tidak semua pengunjung melakukan keberangkatan dan kedatangan tanpa membawa barang bawaan.

Baca Juga :  Tekan Laka di Bawah Umur, Polisi Tertibkan Knalpot Racing Milik Pelajar

“Sulitnya sih di situ. Kalau yang dibawa tadi tidak banyak ya mungkin gampang aja. Tapi kalau barang bawaannya banyak jadinya repot juga harus parkir di sini,” ungkap Mitha.

Sisi lain, Ferdy (36), warga Tarakan mendukung adanya sistem drop zone ini. Ia menyebut arus kendaraan di dalam dermaga dapat lebih tertata. Sehingga tak ada lagi kemacetan pada area keberangkatan maupun kedatangan.

“Kita tahu sering macet di dalam (dermaga). Ini upaya awal memang begini tapi pasti perlahan akan ditata lebih bagus lagi. Saya sebagai masyarakat mendukung saja,” pungkasnya. (*)

Reporter: Endah Agustina

Editor: Yogi Wibawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *