Orang Terdekat Masih Didominasi jadi Pelaku Kekerasan Seksual Anak di Nunukan

benuanta.co.id, NUNUKAN – Awal tahun 2023, Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DSP3A) Kabupaten Nunukan telah menerima dua laporan kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur. Bahkan di sepanjang tahun 2022 belasan kasus kekerasan seksual ditangani oleh DSP3A.

Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) DSP3A Nunukan, Endah Kurniawatie menyampaikan di tahun 2022 lalu pihaknya menangani 23 kasus terhadap anak yang terdiri dari 14 kasus seksual, 1 kasus kekerasan fisik, 8 kasus anak berurusan dengan hukum dan 1 kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

“Untuk di tahun 2022, kasus kekerasan seksual terhadap anak itu meningkatkan jika dibandingkan dengan tahun 2021 lalu,” kata Endah kepada benuanta.co.id, Senin (16/1/2023).

Diungkapkannya, meningkatnya kasus kekerasan seksual terhadap anak disebabkan oleh beberapa faktor seperti lingkungan, pola asuh dan pengawasan dari orang tua.

Baca Juga :  Dibekuk di Kebun, Pria Ini Sembunyikan Puluhan Paket Sabu di Sela Pohon Kelapa

Bahkan, ia mengatakan jika sebagain besar pelaku dari kekerasan seksual terhadap anak adalah orang terdekat yang berada di lingkungan korban.

“Justru para pelakunya ini adalah orang terdekat dari korban, baik itu paman, kekek, ayah kandung, ayah sambung dan bahkan oknum guru juga menjadi pelaku,” ungkapnya.

Kasus yang cukup menarik perhatian yakni aksi bejat oknum guru agama sekolah dasar (SD) yakni W yang tegah melakukan pelecehan terhadap muridnya yang masih berusia 8 tahun pada November 2022 lalu.

Ia juga menyampaikan, korbannya bahkan tidak hanya anak perempuan, bahkan anak laki-laki juga menjadi korban dari kekerasan seksual.

Baca Juga :  Banjir Sembakung Beragnsur Surut

Seperti kasus yang menarik perhatian publik di tahun 2022 lalu, yakni perbuatan tidak senonoh yang dialami oleh R (16) yang dilakukan oleh wanita berusia 46 tahun hingga korban mengalami depresi.

Endah menyampaikan unit PPA telah membuka tempat aduan dan penyelesaian kasus, yang mana pihaknya telah memiliki 4 pekerja sosial yang akan memberikan pendampingan.

Terhadap anak yang telah mengalami kekerasan, pihaknya memberikan penanganan berupa pengobatan trauma dengan pendampingan langsung dari psikolog.

Endah berharap, kepada masyarakat Nunukan apabila mendapatkan informasi terkait kekerasan terhadap anak bisa malaporkan kasus tersebut ke pihaknya. Yang mana, pihaknya akan membantu memberikan pendampingan baik saat melaporkan ke Pihak Kepolisian, proses BAP, pelimpahan ke Kejaksaan, Bahakan saat proses persidangan pihaknya akan melakukan pendampingan terhadap anak tersebut.

Baca Juga :  Debit Air di Sembakung Makin Naik

Selain melakukan pendampingan, Endah juga mengatakan jika dalam waktu dekat ini pihaknya akan melakukan sosialisasi sebagai bentuk pencegahan terhadap kekerasan terhadap anak.

“Kita akan melaksanakan sosialisasi di sekolah-sekolah, baik itu tingkat SMP dan SMA sebagai bentuk pencegahan dari dini,” ucapnya.

Diutarakannya, di tahun 2022 lalu pihaknya telah membentuk Perlindungan Anak Berbasis Masyarakat (PABM) tingkat kelurahan, yang mana dengan melibatkan ketua-ketua RT sebagai garda terdepan dalam pencegahan baik kekerasan fisik, kekerasan seksual terhadap anak.

Sehingga, melalui berbagai program tersebut, Endah berharap pihaknya dapat melakukan pencegahan dan memberikan pendampingan terhadap anak. (*)

Reporter: Novita A.K

Editor: Yogi Wibawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *