Tutup Akses ke Kelurahan dan SMPN 12, Pagar Milik H. Rachmat Rolau Rusak Misterius

benuanta.co.id, TARAKAN – Jalan atau akses satu-satunya menuju Kantor Kelurahan Karang Anyar Pantai dan SMPN 12 Tarakan, sebelumnya telah ditutup oleh pemiliknya, yakni H. Rachmat Rolau pada 28 Desember 2022 lalu.

Meskipun akses tersebut ditutup dengan cara dipagar beserta spanduk larangan melintas, pagar tersebut tiba-tiba rusak secara misterius.

Lurah Karang Anyar Pantai, Yohanes Patongloan membenarkan robohnya pagar tersebut mulai dari 8 Januari 2022.

“Iya benar, tapi kurang tahu penyebabnya karena apa. Saat turun kerja, pagarnya sudah roboh semua,” ujar Yohanes saat diwawancarai benuanta.co.id.

Baca Juga :  Pelaku Tabrak Lari di Selumit Diamankan, Ternyata Masih di Bawah Umur

Pantauan benuanta.co.id, meskipun sebelumnya telah terpampang larangan melintasi pagar tersebut, setelah pagarnya roboh, masyarakat kembali beraktivitas menggunakan lahan tersebut.

Menanggapi hal ini, pemilik lahan, H. Rachmat Rolau mengaku sangat menyesalkan robohnya pagar secara misterius tersebut.

“Kita tahu, pagar beserta spanduk larangan itu seharusnya sudah cukup bisa dimengerti. Kendaraan dan ASN Kelurahan tidak diperbolehkan masuk, hanya para siswa yang diizinkan,” ungkap H. Rachmat.

Baca Juga :  Tahap Penyelidikan, Pencabutan Laporan Markus Minggu soal Video Asusila Ditolak

Dijelaskan H. Rachmat, dirinya telah melihat kondisi robohnya pagar di lahannya tersebut, dan meyakini penyebab robohnya pagar bukan karena cuaca atau angin kencang.

“Saya menyayangkan kejadian ini terulang kembali, dahulu awal tahun 2022 juga sempat saya pagar, tapi juga roboh secara misterius,” sebutnya.

“Terlebih lagi, saya lihat orang kelurahan sudah keluar masuk menggunakan kendaraan melalui lahan tersebut,” ungkapnya lagi.

Baca Juga :  Percobaan Pencurian Dalam Rumah di Jalan Kusuma Bangsa Digagalkan Warga

Akhir perbincangan dengan benuanta.co.id, H. Rachmat lanjut menjelaskan, dirinya telah mengetahui bahwa Kelurahan Karang Anyar Pantai telah memiliki jalan alternatif, namun tetap menggunakan lahannya untuk beraktivitas.

“Jika punya jalan alternatif, seharusnya tidak perlu menggunakan lahan saya. Jika ke depannya ada uang lebih, saya berencana akan membangun pagar beton di lahan itu,” tutupnya. (*)

Editor: Matthew Gregori Nusa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *