10 Tahun Pemkot Pakai Tanpa Sewa Jadi Penyebab Akses Kelurahan dan SMPN 12 Ditutup

benuanta.co.id, TARAKAN – Lahan yang menjadi satu-satunya akses ke luar masuk pegawai Kantor Kelurahan Karang Anyar Pantai, sempat ditutup pemiliknya, H. Rachmat Rolau.

Penutupan itu menyusul belum adanya penyelesaian ganti rugi lahan tersebut sebagaimana yang dijanjikan oleh pemerintah kota sejak tahun  2013.

Wartawan benuanta.co.id yang menghubungi H. Rachmat Rolau selaku pemilik lahan mengatakan, tidak ada niat untuk menghalangi para abdi negara itu melintas di atas tanah miliknya. Hanya saja, janji pemerintah kota untuk menyelesaikan ganti rugi sampai hari ini belum terwujud.

“Bayangkan, mereka (pegawai kelurahan) sudah menggunakannya kurang lebih 10 tahun, yakni sejak tahun 2013. Dan sampai hari ini belum klir,” kata Pak Haji – demikian call sign H. Rachmat Rolau.

Baca Juga :  GTM Dijadwalkan Disegel Malam Ini, Cinema XXI : Kami Taat Hukum

Lebih jauh H. Rachmat menjelaskan, bahwa pada pertengahan tahun 2013, Lurah Karang Anyar Pantai, Nasir SH menelepon.

Kepada Pak Haji, Nasir mengatakan, lahan tersebut mau-tidak mau harus dibeli (ganti-rugi) Pemkot Tarakan, lantaran tidak ada lagi akses ke kantor kelurahan kecuali lewat tanah Pak Haji. Atas dasar kemanusiaan, H. Rachmat lantas menyetujui pembebasan lahannya.

“Jadi, kalau mau tahu awal munculnya rencana ganti rugi itu, sebetulnya, bukan saya yang tawarkan ke Pemkot, tapi Pemkotlah yang memaksa agar lahan itu direlakan untuk dilepas dengan cara ganti rugi,” ungkap H. Rachmat yang akrab disapa Pak Haji.

Menurut Pak Haji, yang mengutip alasan-alasan dari pemerintah kota, bahwa lahan miliknya belum dibalik nama sehingga tidak dapat langsung diganti rugi. Padahal, bukti pemindahan hak atas tanah tersebut, ada. Yakni Akte Jual Beli (AJB) Daeng Sija dengan Rachmat Rolau.

Baca Juga :  PH Kurator akan Tempuh Jalur Hukum Jika Aset PT Gusher Tak Dikosongkan

Artinya, berdasarkan AJB tersebut, ditambah bukti sertifikat atas nama Daeng Sija yang saat ini di tangan Pak Haji, sudah dapat dibalik nama.

Dasarnya adalah, Peraturan Pemerintah (PP) No 19 tahun 2021. Di Pasal 25 ayat (2) disebutkan, pemerintah DAPAT melaksanakan ganti rugi terhadap sertifikat yang belum dibalik nama.

Meski aturan itu sudah jelas, namun pemerintah melalui Badan Pertanahan Nasional (BPN) Tarakan masih berkilah.

Ia katakan, bahwa objek jual beli antara Daeng Sija dengan Rachmat Rolau tidak terdaftar di dalam dokumen BPN.

Pertanyaannya, apakah AJB suatu objek bisa terbit tanpa didaftarkan terlebih dahulu? Jawabnya tentu tidak. AJB bisa terbit karena didaftarkan. Ini sesuai peraturan pemerintah (PP) No.24 tahun 1997 tentang pendaftaran tanah.

Baca Juga :  Pengendara Kembali Keluhkan Aspal Berlubang dan Genangan Air di Jalan Gajah Mada

Pada pasal 1 ayat (1) berbunyi: yang dimaksud dengan pendaftaran tanah adalah, serangkaian kegiatan PEMERINTAH yang dilakukan secara terus-menerus, berkesinambungan dan teratur.

Jadi kalau BPN bilang bahwa tanah yang menjadi objek jual-beli antara Pak Haji dengnan Daeng Sija tidak terdaftar di dokumen BPN, lantas siapa yang harus disalahkan?  

Di akhir perbincangan dengan benuanta.co.id, Pak Haji meminta agar pegawai Kelurahan benar-benar mematuhi keputusan yang diambil Pak Haji dengan tidak lagi menggunakan lahan tersebut sebagai lalulintas keluar-masuk kantor, seperti yang terjadi sebelumnya, meski sudah dipagar tetapi tetap mereka bongkar. (*)

Editor: Matthew Gregori Nusa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *