Wow! Perceraian di Tanjung Selor Meningkat Selama 2022

benuanta.co.id, TANJUNG SELOR – Sepanjang tahun 2022 lalu Pengadilan Agama (PA) Tanjung Selor telah menangani 652 perkara perceraian. Angka ini meningkat dibanding tahun 2021 yakni sebanyak 492 perkara.

Hakim Juru Bicara PA Tanjung Selor Oktoghaizha Rinjipirama, mengatakan pada tahun 2022 lalu memang mengalami peningkatan untuk perkara yang tangani.

“Yaitu kasus perceraian masih tetap perkara yang cukup meningkat di tahun 2022 kemarin,” bebernya Senin (9/1/2023).

Lalu kata dia, kasus perceraian di PA Tanjung Selor ada dua kategori.

“Yang pertama yaitu cerai yang diajukan oleh suami disebut cerai talak sedangkan jika diajukan istri disebut cerai gugat. Untuk jumlah perkara ada dua kasus  ditahun 2022 dan cerai talak yang masuk 106 perkara, cerai gugat 293 perkara sehingga ada peningkatan perkara perceraian,” ungkapnya.

Baca Juga :  Marak Hoaks Penculikan Anak, Kapolresta Bulungan Pesan Ini ke Masyarakat

Mayoritas persoalan cerai gugat disebabkan karena faktor zina.

“Mayoritas cerai yang digugat pihak istri dan faktornya zina, judi, salah satu pasangan ada yang meninggal, poligami, dihukum penjara KDRT, cacat badan, kawin paksa, murtad dan mayoritas itu terjadinya perselisihan dan kesalahpahaman,” ucapnya.

Tak hanya itu, wanita yang juga berprofesi  juru bicara (Jubir) hakim di PA Tanjung Selor tersebut menjelaskan, aangka perkara yang masuk di pengadilan agama selama pandemi Covid-19 lalu sudah berangsur membaik dan pelonggaran PPKM.

Baca Juga :  Jalan Usaha Tani di Bulungan akan Dibenahi Tahun Ini

“Tidak hanya perkara perceraian ditahun 2022 kami juga menangani perkara sengketa perkawinan jadi keseluran perkara tersebut tidak hanya perceraian saja. Di mana perkara sengketa ini berkaitan dengan perdata permohonan dan gugatan,” tegasnya.

Sementara itu, untuk perkara permohonan paling banyak yaitu pengesahan nikah.

“Permohonan ahli waris sedangkan perkara gugatan seperti izin poligami, penolakan perkawinan, harta bersama, hak asuh anak, perkara ekonomi syariah jadi dua perkara yang menjadi penyumbang naik nya perkara yang ditangani PA ditahun 2022,” tuturnya.

Lalu pada indikator lainnya, seperti pengesahan perkawinan katanya mayoritas nikah karena ada kendala biaya.

Baca Juga :  Warga Heboh, 2 Anak di Tanjung Palas Hampir Diculik

“Jadi ada dispensasi kawin perkara ini, untuk anak di bawah umur karena ada aturan baru dulu kan perempuan 16 tahun laki-laki 19 tahun sudah bisa menikah tanpa izin. Kalau sekarang dua-duanya harus 19 tahun jika usia 16 tahun mau nikah harus izin dulu mengikuti peraturan mahkamah yang telah ditetapkan. Kemudian untuk perkara ini meningkatan dibanding tahun sebelumnya kalau tahun 2021 ada 45 perkara yang masuk sedangkan tahun 2022 hanya 2 perkara jadi totalnya 47 perkara,”  pungkasnya. (*)

Reporter: Georgie Silalahi

Editor: Yogi Wibawa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *