Penyakit Tak Menular Alami Peningkatan di Nunukan, Dinkes Tingkatkan Edukasi

benuanta.co.id, NUNUKAN – Penyakit tidak menular (PTM) di Kabupaten Nunukan mengalami peningkatan pada usia produktif. Sehingga, perlu dilakukan sebuah gerakan secara masif dan terstruktur untuk memberikan pesan atau edukasi tentang perilaku hidup sehat.

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Nunukan, H. Muhammad Shaleh mengatakan PTM saat ini mengalami peningkatan.

“Saat ini prevalensi stunting di Kabupaten Nunukan masih tinggi, pada tahun 2021 sebanyak 16,3 persen, sedangkan jumlah kasus kematian ibu pada tahun 2021 terdapat 8 kasus,” ujar Shaleh.

Baca Juga :  Bak Film Action, Dua WNA Pakistan Gunakan Handuk untuk Kabur dari Tahanan

Sedangkan Kasus PTM juga mengalami peningkatan pada usia produktif. Hipertensi 56 persen dari 5.553 jumlah estimasi penderita yang diperiksa. Kemudian kasus diabetes mellitus ditemukan 48,8 persen dari estimasi 2.622 penderita.

Kata Shaleh, sebuah pembelajaran berharga di era jaminan kesehatan nasional (JKN), anggaran banyak terserap untuk membiayai penyakit katastropik, seperti Penyakit Jantung Koroner, Gagal Ginjal Kronik, Kanker dan Stroke. Selain itu, pelayanan kesehatan peserta JKN juga didominasi pada pembiayaan kesehatan di tingkat lanjutan dibandingkan di tingkat dasar.

Baca Juga :  Pakar Gizi: Konsumsi Nasi dan Mie Berlebih Dapat Naikkan Gula Darah

“Fakta ini perlu ditindaklanjuti karena berpotensi menjadi beban yang luar biasa terhadap keuangan negara. Meningkatnya PTM dapat menurunkan produktivitas sumber daya manusia, bahkan kualitas generasi bangsa,” kata Shaleh, Kamis (1/7/12/2022).

Lanjut dia, hal ini berdampak pula pada besarnya beban pemerintah karena penanganan PTM membutuhkan biaya yang besar. Pada akhirnya, kesehatan akan sangat mempengaruhi pembangunan sosial dan ekonomi.

Penduduk usia produktif dengan jumlah besar yang seharusnya memberikan kontribusi pada pembangunan, justru akan terancam apabila kesehatannya terganggu oleh PTM dan perilaku hidup yang tidak sehat.

Baca Juga :  Menkes Telusuri Kontak Erat Pasien COVID-19 Kraken di Indonesia

Ada beberapa Indikator gerakan masyarakat hidup sehat (GERMAS) sebanyak 7 yaitu melakukan aktifitas fisik, mengonsumsi sayur dan buah, tidak merokok, tidak mengonsumsi alkohol, memeriksa kesehatan secara rutin, membersihkan lingkungan, dan menggunakan jamban.

Tiga kegiatan tersebut dapat dimulai dari diri sendiri dan keluarga, dilakukan saat ini juga, dan tidak membutuhkan biaya yang besar.

“Jika ingin sehat sebenarnya sudah ada di masyarakat, namun perlu dikuatkan dan diperluas dalam praktiknya di kalangan keluarga dan masyarakat,” imbuhnya. (*)

Reporter: Darmawan

Editor: Matthew Gregori Nusa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *